Senin, 19 Agustus 2013

Menanamkan Moral Anti Korupsi Lewat Dongeng Kepada Anak

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Korupsi di Indonesia sudah membudaya sejak dulu, sebelum dan sesudah kemerdekaan, di era Orde Lama, Orde Baru, berlanjut hingga era Reformasi. Korupsi dapat didefiniskan sebagai suatu tindak penyalahgunaan kekayaan negara (dalam konsep modern), yang melayani kepentingan umum, untuk kepentingan pribadi atau perorangan. Akan tetapi praktek korupsi sendiri, seperti suap atau sogok, kerap ditemui di tengah masyarakat tanpa harus melibatkan hubungan negara.
Istilah korupsi dapat pula mengacu pada pemakaian dana pemerintah untuk tujuan pribadi. Definisi ini tidak hanya menyangkut korupsi moneter yang konvensional, akan tetapi menyangkut pula korupsi politik dan administratif. Seorang administrator yang memanfaatkan kedudukannya untuk menguras pembayaran tidak resmi dari para investor (domestik maupun asing), memakai sumber pemerintah, kedudukan, martabat, status, atau kewenangannnya yang resmi, untuk keuntungan pribadi dapat pula dikategorikan melakukan tindak korupsi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas korupsi, namun hasilnya masih jauh panggang dari api.
Titik tekan dalam persoalan korupsi sebenarnya adalah masyarakat masih belum melihat kesungguhan pemerintah dalam upaya memberantas korupsi. Ibarat penyakit, sebenarnya sudah ditemukan penyebabnya, namun obat mujarab untuk penyembuhan belum bisa ditemukan. Persoalan moral bangsalah yang sudah terlanjur sudah buruk sehingga mengakibatkan budaya korupsi sukar dihilangkan.
 Karena budaya korupsi sudah mendarah daging maka perlu adanya suatu pendidikan moral tentang anti korupsi. Pendidikan moral anti korupsi ini perlu diberikan sejak dini pada anak. Mengapa harus diberikan pada anak sejak usia dini, hal ini disebabkan karena pada usia tersebut pemikiran anak masih bersih belum tercampuri kepentingan apapun. Salah satu metode yang digunakan adalah melalui dongeng atau cerita. Metode ini sangat cocok diterapkan pada anak usia dini. Dengan penanaman pendidikan moral anti korupsi yang diberikan pada anak sejak usia dini, maka diharapkan kelak ketika anak tersebut sudah dewasa dan menjadi pemimpin, pendidikan moral anti korupsi yang telah didapat akan diaplikasikan.
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di atas salah satu alternatif solusi untuk menimalisir budaya korupsi di Indonesia adalah dengan menanamkan moral anti korupsi lewat dongeng pada anak usia dini.
Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat diambil rumusan masalah yaitu :
1.      Bagaimana cara menanamkan moral anti korupsi lewat dongeng kepada anak?
2.       Nilai-nilai anti korupsi apa yang harus terkandung dalam dongeng?

Tujuan
Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah untuk mengetahui :
1.      Cara menanamkan moral anti korupsi lewat dongeng kepada anak.
2.      Nilai-nilai anti korupsi apa yang harus terkandung dalam dongeng.

Manfaat
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan karya tulis ini yaitu :
1.      Menambah khasanah pengetahuan tentang manfaat dongeng sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada masyarakat.
2.      2. Memberikan alternatif solusi terhadap masalah peredaran korupsi yang semakin marak.


TELAAH  PUSTAKA

Tinjauan Korupsi
Korupsi dapat didefiniskan sebagai suatu tindak penyalahgunaan kekayaan negara (dalam konsep modern), yang melayani kepentingan umum, untuk kepentingan pribadi atau perorangan. Akan tetapi praktek korupsi sendiri, seperti suap atau sogok, kerap ditemui di tengah masyarakat tanpa harus melibatkan hubungan negara. Istilah korupsi dapat pula mengacu pada pemakaian dana pemerintah untuk tujuan pribadi. Definisi ini tidak hanya menyangkut korupsi moneter yang konvensional, akan tetapi menyangkut pula korupsi politik dan administratif. Seorang administrator yang memanfaatkan kedudukannya untuk menguras pembayaran tidak resmi dari para investor (domestik maupun asing), memakai sumber pemerintah, kedudukan, martabat, status, atau kewenangannnya yang resmi, untuk keuntungan pribadi dapat pula dikategorikan melakukan tindak korupsi.
Korupsi aealah nal vital yang menyebab kan terhambatnya pembangunan di beberapa bidang selain itu karena korupsi pembangunan tak akan pernah maksimal. Sebelum korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) berhasil di berantas atau di kurangi secara siknifikan,kita tidak dapat mencegah apapun dengan maksimal (Kwik kian gie,2008:4), selain itu yang memperparah keberadaan korupsi itu sendiri ialah seakan-akan korupsi sudah menjadi kebiasaan dan budaya oknum pemerintahan dalam menjalankan tugasnya. Korupsi di Negara kita sudah mendarah-daging,cakupanya sangat luas dan menyeluruh baik horisontal maupun vertikal. Sangat sulit mencari birokrat atau penguasa yang belum terjangkit korupsi di dalam hidupnya (Kwik kian gie,2008:7), jadi disini jelas korupsi adalah hal yang harus bisa kita berantas, akan tetapi apabila kita memberantas korupsi dari berbagai masalah yang ada sekarag ini ibarat menebang pohon besar dengan alat yang masih sangat sederhana, maka pemberantasan korusi harus dilakukan dengan perbaikan akhlak orang-orang sejak mereka masih kecil (Kwik kian gie,2008:9)

 

Penanaman Nilai Moral untuk Anak Sejak Usia Dini

Pendidikan moral merupakan salah satu pendekatan yang dianggap sebagai gerakan utama dalam pendidikan nilai secara komprehensif. Pendidikan moral mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan mengatasi konflik, dan perilaku yang baik, jujur, dan penyayang (kemudian dinyatakan dengan istilah bermoral). Tujuan utama pendidikan moral adalah menghasilkan individu yang otonom, memahami nilai-nilai moral dan memiliki komitmen untuk bertindak konsisten dengan nilai-nilai tersebut. Pendidikan moral mengandung beberapa komponen yaitu: pengetahuan tentang moralitas, penalaran moral, perasaan kasihan dan mementingkan kepentingan orang lain, dan tendensi moral (Darmiyati Zuchdi, 2003:13).

Pendidikan untuk anak usia dini (0-8 tahun) merupakan pendidikan yang memiliki karakteristik berbeda dengan anak usia lain, sehingga pendidikannya pun perlu dipandang sebagai sesuatu yang dikhususkan. Perkembangan setelah tahun pertama ditandai dengan berbagai proses-proses yang sangat fundamental. Misalnya perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian ditandai pekembangan tingkah laku lekat. Tingkah laku lekat harus tumbuh dan menjadi setabil sebagai latar belakang struktural tingkah laku yang akan datang. Dalam tahun pertama harus dibuat suatu basis bagi timbulnya tingkah laku lekat yang nanti akan memegang peranan yang esensial sepanjang hidup (F.J monks, A.M.P Knoers, Siti rahayu haditomo, 2002:101)

Pendidikan anak usia dini di negara-negara maju mendapat perhatian yang luar biasa. Karena pada dasarnya pengembangan manusia akan lebih mudah dilakukan pada usia dini. Bahkan ada yang berpendapat bahwa usia dini merupakan usia emas (golden age) yang hanya terjadi sekali selama kehidupan seorang manusia. Apabila usia dini tidak dimanfaatkan dengan menerapkan pendidikan dan penanaman nilai serta sikap yang baik tentunya kelak ketika ia dewasa nilai-nilai moral yang berkembang juga nilai-nilai moral yang kurang baik. Karena dimana dalam usia-usia ini anak sering meniru tingkah laku maka dalam masa ini anak harus dapat dididik dengan baik, suatu tingkah laku dapat di pelajari dengan meniru saja, dapat dicontohkan apabila sekelompok anak di tunjukan film. Dalam film tadi ada orang dewasa(modelnya) berbuat sangat agresif terhadap sebuah boneka sedangkan kelompok yang lain tidak melihat film tersebut. Kemudian dua kelompok anak tadi dimasukan kedalam sebuah ruangan yang penuh bonekah. Hasilnya kelompok anak yang melihat tingkah laku(Bandura dan walters,1963). Oleh karena itu pendidikan anak usia dini adalah investasi yang sangat mahal harganya bagi keluarga dan juga bangsa. Penanaman moral anti korupsi dipandang sangat tepat diberikan pada anak usia dini karena pada saat usia inilah setiap individu mengalami masa keemasan dalam menerima pesan-pesan positif yang ingin dicapai.

Hakikat Dongeng

Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga dongeng yang melukiskan kebenaran, berisi ajaran moral, bahkan sindiran (Agus : 2008). Pada mulanya kegiatan bercerita atau menuturkan cerita hanya dilakukan dan ditujukan untuk orang dewasa, misalnya para prajurit, nelayan, dan musafir yang sering kali tidur di tenda-tenda. Biasanya yang diceritakan adalah cerita-cerita rakyat yang diturunkan secara turun temurun dari mulut ke mulut. Namun, pada beberapa kebudayaan, para orang tua dan muda berkumpul bersama untuk mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh seorang tukang cerita atau pendongeng yang di beberapa kebudayaan biasanya merangkap sebagai tabib. Selain menyampaikan hiburan, pendongeng biasanya juga menyampaikan atau mengajarkan adat kebiasaan dan moral kepada orang muda.


METODE PENULISAN

Pendekatan penulisan
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah deskriptif kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan. Pemilihan pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara cermat mengenai keadaan atau gejala tertentu pada objek kajian. Dalam hal ini penulis berusaha membuat deskripsi tentang penanaman nilai moral anti korupsi melalui dongeng pada anak usia dini.

Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ini adalah :
1.      Studi Pustaka
                                    Berdasarkan permasalahan yang muncul maka penulis melakukan pencarian sumber-sumber pustaka yang relevan dengan tema yang kami ambil dari buku-buku dan artikel yang kami unduh dari internet. Sumber-sumber pustaka yang diperoleh kemudian dipelajari dan dituangkan dalam kajian pustaka sebagai teori yang mendasari pembahasan dan permasalahan yang dikaji.
2.      Dokumentasi
                        Pada tahap ini penulis melakukan pengumpulan data yang berhubungan erat dengan dokumen yang berasal dari buku, surat kabar, majalah dan artikel mengenai korupsi dan pemecahannya. Data-data yang diperoleh kemudian dihimpun berdasarkan prioritas manfaat sebagai landasan permasalahan.

Analisis Data
            Kegiatan analisis dilakukan dengan pendekatan teoritik berdasarkan hasil kajian pustaka. Proses analisis data yang dilakukan dalam penulisan karya tulis ini mencakup reduksi data dan sajian data.

Analisis reduksi data dilakukan dengan menyeleksi, memfokuskan, dan menyederhanakan yang telah telah diperoleh berdasarkan sumber pustaka. Analisi ini dilakukan guna mempertegas, meringkas, memfokuskan dan membuang data yang tidak penting agar simpulan dapat diambil.
            Setelah melakukan reduksi data kemudian penulis melaksanakan tahap sajian data. Pada tahap ini penulis menyusun informasi hasil dari tahap reduksi data kemudian menyajikannya secara lengkap baik data yang diperoleh dari studi pustaka, maupun dokumentasi kemudian dianalisis sesuai dengan kategori dalam permasalahan yang ada guna memperoleh data yang jelas dan sistematis. Data ini kemudian digunakan sebagai rujukan dalam pembahasan dan penarikan simpulan.
Penarikan Kesimpulan dan Saran
            Pada tahap penarikan Kesimpulan dan saran penulis menggunakan teknis induksi berdasarkan uraian pada pembahasan. Berdasarkan pembahasan pula, penulis merumuskan beberapa saran agar pihak-pihak yang terkait dapat mempertimbangkan solusi permasalahan untuk dapat direalisasikan.


PEMBAHASAN

Penanaman Moral Anti Korupsi Lewat Dongeng
Saddam Husein, mantan presiden dan pemimpin besar Irak, terdidik dalam dongeng. Dalam buku Man and The City, yang ditulisnya sendiri, saddam bercerita betapa dirinya sangat terpengaruh cerita-cerita ibunya. Saddam menuturkan, dia kerap dipeluk ibunya sambil ibundanya bercerita tentang para leluhur. “Ibu saya mendongengkan cerita-cerita sambil membelai rambut saya”, tulis Saddam. Sejumlah pengamat menduga, dongeng-dongeng yang didengar Saddam banyak mempengaruhi kepribadiannya setelah dewasa. Saddam banyak terinspirasi oleh cerita dongeng sang ibunda.
Pengalaman serupa terjadi pada Hans Christian Andersen. H. C. Andersen, penulis cerita anak terkemuka abad 19, melalui autobiografinya, The True Story of My Life, menulis, “Setiap minggu ayahku membuat gambar-gambar dan menceritakan dongeng-dongeng”. Ibunya pun melakukan hal yang sama. Sang ibu mengenalkan dongeng-dongeng legenda rakyat. Kecemerlangan Andersen menyusun kisah dipengaruhi pengalaman batin masa kecil. Ketika dia menggambarkan dalam benaknya dongeng yang diceritakan orang tuanya.
Berdasarkan pengalaman dua tokoh besar tadi, bisa dikatakan bahwa dongeng ikut andil dalam pembentukan karakter anak. Karena itu, dongeng berfungsi sebagai media pendidikan nilai-nilai keluhuran. Menyebarkan pesan moral tanpa anak menyadari dirinya sedang disuntik nilai-nilai kebaikan.
Dongeng menjadi jalan mewujudkan kaidah dasar, bahwa penanaman nilai dapat dilakukan tanpa kesan memaksa dan menekan. Malahan dongeng dan kegiatan mendongeng membentuk benih-benih sikap positif. Sikap yang terus-menerus dibentuk hingga menjadi karakter anak setelah dia dewasa.
Harus diakui, dongeng punya pengaruh luar biasa. Anak-anak, target utama penceritaan dongeng, mudah terbujuk oleh cerita-cerita dongeng. Penelitian mengungkapkan bahwa dongeng bisa mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual anak. Dongeng sanggup mengembangkan moral guna mengetahui perbuatan yang baik dan buruk.
Psikolog Ninok Widiantoro mengatakan, dongeng bisa menciptakan sisi kepekaan sang anak. Tokoh dan karakter yang diceritakan dalam dongeng akan selalu diingat oleh sang anak, apakah itu tokoh baik maupun tokoh jahat. Cerita dongeng juga dapat berpengaruh bagi kesembuhan anak yang sedang sakit, terutama dampak psikologisnya. Selain itu, dari berbagai cara untuk mendidik anak, dongeng merupakan cara paling ampuh dan efektif untuk memberikan sentuhan humanis dan sportifitas bagi anak. Dongeng berpengaruh pada cara berpikir, moral, dan tingkah laku.
Dongeng membentuk dan mengembangkan imajinasi anak. Hal ini selaras dengan hasil kajian Robert Fulghum. Pakar anak ini, dalam salah satu bukunya, pernah mengatakan bahwa imajinasi lebih kuat dari pengetahuan dan impian lebih kuat dari fakta. Fulghum bahkan menegaskan, menghadirkan dunia imajinasi sejak dini sangat bermanfaat bagi kesehatan anak.
Selain itu, dongeng berguna untuk memasukkan nilai dan etika secara halus kepada anak. Dongeng akan menanamkan sikap mental yang bersemangat dan tanggung jawab pada diri si anak. Pesan moral, ajaran pekerti, dan pendidikan karakter yang terkandung dalam dongeng akan memberikan keteladanan dan panutan bagi anak.
Atas dasar pemikiran seperti itu, rupanya dongeng sejalan dengan tujuan pendidikan antikorupsi. Yakni pembentukan manusia yang mempunyai  pemahaman, sikap, dan perilaku yang anti terhadap korupsi. Terutama pendidikan antikorupsi kepada anak dini usia.

Nilai-Nilai Anti Korupsi Dalam Dongeng
Pendidikan antikorupsi adalah perpaduan pendidikan nilai dan karakter. Sebuah karakter yang dibangun di atas landasan kejujuran, integritas, dan keluhuran. Dalam kaitan itu, dongeng bisa menjadi sarana penanaman nilai-nilai antikorupsi. Pertanyaannya, nilai-nilai antikorupsi seperti apa yang selayaknya diberikan melalui dongeng?
Korupsi bisa timbul karena dua sebab. Sebab pertama, korupsi karena kebutuhan (corruption by need). Korupsi yang timbul ketika penghasilan tidak lagi bisa menanggung kebutuhan dasar sehari-hari. Jalan keluarnya biasanya dengan mengambil sikap menyimpang. Melakukan korupsi. Sebab kedua, korupsi karena keserakahan (corruption by greed). Tidak puas dengan satu gunung emas, cari gunung emas kedua dan ketiga. Sudah punya rumah, ingin motor. Sudah ada motor, mau mobil. Mobil terbeli, ingin mobil mewah.
Kedua jenis korupsi tersebut, korupsi karena kebutuhan maupun karena kerakusan, memang tak bisa ditolerir. Namun, penanganan keduanya mengharuskan cara berbeda. Korupsi karena kebutuhan timbul karena kondisi obyektif yang tidak mendukung. Karena sistem yang tidak memberikan harapan kesejahteraan. Oleh sebab itu, perbaikilah sistem. Sementara, korupsi karena kerakusan disebabkan kondisi subyektif. Kondisi internal seseorang. Adanya sifat tamak, tidak puas, dan keinginan memperkaya diri sendiri. Korupsi yang dikerjakan oleh mereka yang nuraninya sudah buta. Ingin sejahtera tanpa mau kerja keras. Karenanya, untuk memberantas korupsi jenis ini, perbaikilah orangnya.
Korupsi karena tamak lebih bahaya ketimbang korupsi karena kebutuhan. Kerakusan, dusta, ketidakjujuran merupakan perilaku yang bisa terbentuk sejak kecil. Sejak masa kanak-kanak. Perilaku ini adalah kumpulan dari apa yang dialami dalam proses hidup, mulai usia dini hingga dewasa. Teori psikologi kognitif menguatkan argumen ini. Menurut psikologi kognitif, apa yang kita dengar, lihat, pikirkan, rasakan, dan alami akan mempengaruhi cara pandang dan perilaku kita. Singkatnya, perilaku kita merupakan resultante dari apa yang kita pikir, rasa, dan lakukan. Dengan demikian, apa yang kita lihat dan dengar semasa kecil juga akan membentuk karakter kita bila dewasa kelak. Karena itu, nilai-nilai antikorupsi dalam dongeng adalah nilai-nilai yang mempromosikan kesederhanaan, kejujuran, dan daya juang. Selain itu, juga nilai-nilai yang mengajarkan kebersamaan, setiakawan, dan kedisiplinan. Namun, tentu saja, tidak semua cerita dalam dongeng bisa berguna. Sebagai contoh adalah  dongeng si kancil mencuri ketimun petani. Si kancil dikisahkan hewan yang cerdas, cerdik, dan lincah. Dengan kecerdikannya, si kancil mengelabui petani, untuk kemudian berhasil mencuri ketimun. Si kancil sulit tertangkap oleh petani. Suatu kali petani berhasil menangkap basah si kancil. Tetapi dengan kelihaiannya, kancil berkelit dari jerat hukuman.
Cerita kancil di atas mungkin saja telah meracuni pikiran anak. Anak mengira mencuri adalah sesuatu yang wajar. Anak memiliki anggapan bahwa kepintaran merupakan keunggulan seseorang yang bermanfaat untuk mencuri. Karena itu, sesuai nilai antikorupsi yang ingin disebarkan, maka kita perlu cerita dongeng yang memuat figur-figur yang jujur, berani, kompetitif, dan bertanggungjawab. Bukan figur yang memakai kecerdikannya untuk memperdaya orang lain. Dongeng dan mendongeng adalah salah satu bentuk pendidikan nilai, yang pada gilirannya mendukung upaya pendidikan antikorupsi. Sebuah pendidikan antikorupsi yang dimulai dari usia dini. Pendidikan antikorupsi diharapkan membentuk karakter individu, hingga pada gilirannya akan membentuk karakter bangsa secara keseluruhan.

Contoh Dongeng

Monyet yang Serakah

            Alkisah dipinggir hutan belantara hidup segerombol monyet yang berkuasa diwilayah tersebut,setiap hari monyet-monyet tersebut mengambil buah-buahan milik binatang kecil lainya tanpa pernah bekerja keras, suatu pagi seperti biasanya  dimana sang monyet itu menghampiri sang tupai yang sedang mengambil pepaya:

Monyet  :    “Pagi binatang cantik.???sedang ngapai nich...???kayaknya asik nich, boleh ikutan gak...?????”
Tupai     :    “Ppppaagiiii tuuuaann monyet (sambil ketakutan) ini kami sedang mengambil buah pepaya.”
Monyet  :    “Hemmm....!!!!!coba tunjukan buah yang kau dapatkan.....!!!!”
Tupai     :    “Ini cuma buah yang agak busuk untuk makan anak-anak kami tuan (sambil menunjukan buah tersebut)”
Monyet  :    “Heeeeemmmm (sambil mengeluarkan air liur) kayaknya enak nich..???aku boleh minta sedikit untuk sarapan pagi ini tidak...???”
Tupai     :    Jaanggannn tuan....!!!!(sambil gugup dan takut) ini hanya sedikiyt untuk makan anak kami...!!!”
Monyet  :    “Apa kamu berani menentang perkataan ku (dengan nada marah dan mengancam) kamu mau cari mati...??? kamu tahu siapa penguasa disini........??????”
Tupai     :    “Sekali lagi beribu ampun sang paduka...!!!!!bukan maksut hamba untuk menolak..!!!tapi anak-anak kami sedang kelaparan...!!!!”
Monyet  :    “Sudah persetan dengan anak-anak kalian....!!!!mau tidak mau makanan itu untu aku....!!!!!! (sambil mengambil makananitu dan kabur)”
              Seperti yang biasa terjadi setiap pagi sang monyet hanya bisa mengambil makanan dari binatang-binatang kecil lainya,tiba suatu pagi sang monyet bertemu dengan kancil yang berlari indah dan sang monyet segera menyapanya:

Monyet  :    “Pagi kancil yang lucu....????sedang ngapain nich....???tambah cantik nich...????”
Kancil    :    “Biasalah nyet kalo pagi saya jalan-jalan agar tubuh ini semakin kuat...!!!!”
Monyet  :    “Terus apa gerangan yang sedang kau bawa....???? (penuh rasa tanya)”
Kancil    :    “Ooww.....!!!!ini....????ini buah timun yang aku bawa dari kebun diujung sana....????mumpung masih segar saya bawa aja.....!!!!!”
Monyet  :    “Masih segar yaaa...???berarti enak dong....???? (sambil menelan air liur karena penasaran)”
Kacil      :    “Iya nyet rasa enak sekali.....!!!!!apalagi ini masih segar....!!!!!pokoknya lezat dech...!!!!”
Monyet  :    “Enak ya ncil...????(air liurnya sudah keluar menahan rasa ingin mencicipi) bagidong nyet...!!!!!”
Kancil    :    “Enak saja....!!!!!saya tak akan membagi buah yang sangat segar ini...!!!!”       
Monyet  :    “Kamu menentang mau aku...????kamu tau siapa aku....!!!!!sudah bosan hidup......!!!!jangan lari ku bunuh kau.....!!!!! (sambil memandang penuh murka)”
Kancil    :    “Dari pada kamu membunuh aku hanya demi mendapat timun ini mending kamu pergi keujung hutan ini....!!!!(sambil meyakinkan)sampai diujng sana kamu akan menemui kebun mentimun yang sangat luas sekali...!!!!selain itu disana juga banyak pohon pisang dan buah-buahan yang lainya.....!!!!!!!!”
Monyet  :    “Serius kamu ncil....?????kamu gak bohong kan.....????? (sambil diliputi rasa penasaran dan ingi tahuu)”
Kancil    :    “Apakah mukaku ini menunjukan kebohongan.....!!!!!(sambil meyakinkan monyet)”
Monyet :     “Ok....????aku parcaya sama kamu....!!!!!tapi kalau kamu bohong jangan harap hidupmu bertahan lama.”

              Setelah mendengar perkataan kancil sang monyet segera berlari menuju ujung hutan yang dimaksut sang kancil,setelah cukup lama berlari sang monyet sampai kesebuah kebun yang dimaksutkan oleh sang kancil:

Monyet  :    Ternyata apa yang dikatan sang kancil adalah benar...!!!!sekarang daerah ini adalah area kekuasaanku......!!!!(sambil menikmati buah ketimun)

                                 Lagi asik-asik makan mata sang monyet tertuju pada sepetak kebun pisang yang penuh dengan pisang siap panen. Dengan sepontan sang monyet menuju kebun pisan tersebut untuk berpesta,satu demi satu pisang itu dimakan hingga tak terasa sang monyet menghabiskan bertundn-tundun pisang hingga perutnya besar,walaupun perut monyet sudah besar akan tetapi sang monyet masih melanjutkan menyantap pisang yang diperoleh dengan Cuma-Cuma itu.
Disisi lain pak tani yang memiliki kebun pisang tersebut datang kekebun bermaksut memanen buah pisang yang sudah masak. Akan tetapi sesampainya dikebun pak tani melihat kulit buah pisang yang berserakan dalam jumlah banyak,dengan sepontan pak tani marah dan mencari penyebabnya. Tak lama dicari pak tani melihat sang monyet sedang asik makan diatas buah pisang,dengan nada marah pak tani mendekati monyet:

Pak Tani     :    Monyet kurang ajar...!!!bisanya hanya mencuri kerja orang (sanbil melempar sabit ke arah monyet)

                 Karena sang monyet terlalu kenyang memakan buah pisang sehingga sang monyet tak bisa menghindar dari sabetan parang pak tani,dengan seketika parang tersebut mengenai kepala monyet dan akhirnya monyet tersebut mati ditangan pak tani


  Monyet dan Katak

                 Alkisah ada seekor monyet dan seekor katak hidup berdampingan,jika pegi datang sang monyet menggelantung dari satu pohon kepohon lainya untuk mencari makan sedangkan sang katak menyelam kesungai untuk menangkap ikan ikan kecil,setelah kenyang dengan buruanya biasanya mereka beristirahat dibawah pohon besar secara bersama-sama sambil bercerita. Suatu pagi yang cerah sang monyet sedang berbincang-bincang dengan katak:

Monyet  :    “Hai tak bagaimana buruanmu hari ini....????aku cukup kenyang menyantap pisang kali ini.”
Katak     :    “Sama hari ini aku cukup kenyang menangkap ikan-ikan kecil...!!!tapi nyet aku capek banget tiap hari harus mengejar-ngejar ikan...!!!kadang aku kasihan sama induknya.”
Monyet  :    “Bener juga ya tak..??kadang aku juga merasa capek harus menggelantung dari satu pohon kepohon lainya.”
Katak     :    “Terus apa yang harus kita lakukan agar kita bisa hidup enak tanpa harus capek-capek cari makan...????”
Monyet  :    “Oya kan setiap hari disungai ini ada pohon pisang yang hanyut terbawa arus...!!!!bagaimana kalau kita ambil pohon itu untuk kita tanam...????”
Katak     :    “Aku setuju..!!terus siapa yang akan ambil batang pisang itu..??
Monyet  :    “Kan kamu pandai berenang bagaimana kalau kamu yang bertugas membawa batang pisang itu ketepi,setelah sampai ketepi sisanya giliran aku yang bawa keatas..!!setuju gak kamu...???”
Katak     :    “Aku rasa saranmu cukup adil..!!ok kita mulai bekerja.”

              Setela kesepakatan terjadi mereka bersiap ditepi sungai untuk mengawasi kalau ada pohon pisang yang lewat,setelah sekian lama menunggu akhirnya ada satu batang pohon yang terbawa arus sungai,seperti kesepakatan mereka membagi tugas untuk bekerja. Akan tetapi setelah senja menjelang tidak ada satu batang pohon pun yang ikut terbawa arus sungai,setelah bosan menunggu akhirnya mereka berdiskusi:

Monyet  :    “Tak ternyata setelah menunggu seharian kita hanya dapat menemukan sebuah batang pisang saja..!!(dengan muka kecewa) punya solusi bagaimana tak...????”
Katak     :    “Mending kita bagi dua saja batang ini...!!!!kita potong pohon ini menjadi dua....!!!!”
Monyet  :    “Ok...!!!! (sambil memotong batang pisang menjadi dua bagian yakni atas dan bawah)”
Katak     :    “Akhirnya kita berhasil memotong menjadi dua...!!!!sekarang kita bagi...!!!aku yang atas dan kamu yang bawah..??”
Monyet  :    “Tunggu sebentar.....!!!!!(sambil berfikir bahwa pohon pisang kan yang buah yang atas bukan yang bawah,maka sang monyet bermaksut mengkibuli sang katak) oya kan buah yang menyerap makanan kan akarnya mending kamu aja yang bawah”
Katak     :    “Tapi bukanya yang berbuah yang atas..??(sambil berfikir karsna menjadi bingung)”
Monyet  :    “Tapi yang menyerap makanan akarnya.(sambil meyakikan sang katak)”
Katak     :    “Ok....!!!!aku terima tawaranmu.”

              Lalu mereka pergi ketempat masing-masing untk menanam pohon pisang. Setelah tiga minggu berlangsung sang monyet menghampiri katak:

Monyet  :    “bagaimana kondisi pohon pisangmu tak....???”
Katak     :    “pohon pisangku mulai berdaun..!!(sambil tersenyum bahagia) kamu sendiri.?bagaimana pohon pisangmu..??”
Monyet  :    “sama”

              Setelah satu bulan seperti yang kita ketahui bahwa pohon pisang yang mampu tumbuh yang bawah tak hayal maka pohon pisang milik sang monyet pun mati dan sang monyet ingin melihat pohonsang katak:

Monyet  :    “Bagaimana pohon pisangmu..??”
Katak     :    “Pohon pisangku sudah mulai berbuah...!!!!milik kamu..??”
Monyet  :    “Sama”
              Setelah satu bulan sang monyet berkunjung lagi:
Monyet  :    “Bagaimana pohon pisangmu..??”
Katak     :    “Buahnya sudah masak-masak untung kamu kesini kan kamu tahu sendiri aku tak bisa memanjat buah..!!maukah kamu menolong aku...??”
Monyet  :    “Untuk seorang sahabat pasti aku bantu..!!!tapi aku dapat bagianya kan....???”
Katak     :    “Ok...!!!!kamu aku kasih sepertiga bagian”
             
              Lalu sang katak memanjat pohon itu,sesampainya diatas sang katak mencicipi buah pisang itu,karena rasanya manis sang monyet pun menghabiskan semua pisang itu dan sang katak hanya dikasih kulit pisang saja. Karena sang katak marah maka pohon itu langsung ditebang,karena terlalu asik makan pisang sang monyet tak sadar kalau pohon itu telah ditebang sang katak. Setelah pisang siatas sudah habis sang monyet baru sadar kalau pohonya sudah ditebang,ahirnya sang monyet telat untk menghindar dan ikut jatuh bersama pohon pisang.akan tetapi naas bagi monyet saat terjatuh perut monyet mendarat diatas patahan batang bambu yang runcing yang mengakibatkan monyet tersebut mati

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan :
1.      Berdasarkan data dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Indonesia mempunyai angka tingkat korupsi yang sudah sangat memprihatinkan. Banyak pejabat yang terlibat kasus korupsi dari tingkat pusat sampai daerah. Tidak hanya para pejabat, budaya korupsi juga sudah mendarah daging pada masyarakat yang dimana seakan akan korupsi merupakan hal pokok dalam masyarakat tersebut dengan berbagai cara untuk melakukakannya sesuai dengan bidang pekerjaannya.
2.      Sudah lunturnya nilai moral yang dialami masyarakat,pejabat dan kaum terpelajar pada umumnya menyebakan angka tingkat korupsi semakin meningkat dari tahun ke tahun.
3.      Untuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya suatu alternatif solusi untuk meminimalisir tindak pidana korupsi baik dari skala kecil maupun skala besar. Salah satunya adalah penanaman nilai moral anti korupsi lewat dongeng kepada anak yang mana diharapkan dengan ini anak-anak bisa termotivasi untuk meniru contoh yang baik atau menghindari contoh yang buruk dari dongeng tersebut.
4.      Penelitian yang telah ada mengungkapkan bahwa dongeng bisa mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual anak. Dongeng sanggup mengembangkan moral guna mengetahui perbuatan yang baik dan buruk. Melalui dongeng ini diharapkan penanaman moral anti korupsi lewat dongeng ini diharapkan dapat membentuk kepribadian baik. Sehingga, di masa depan tindak pidana korupsi dapat diminimalisir secara maksimal         
Saran
            Peran serta masayarakat dan pemerintah melalui melalui pihak-pihak terkait yang dalam hal ini adalah Departeman Pendidikan Nasional bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi sangat diharapkan untuk dapat mensosialisasikan program tersebut dalam bidan pendidikan formal ditingkat dasar.

DAFTAR PUSTAKA

 

Agus. 2008. Pengertian Dongeng. http://linaleebon.blogspot.com. (10 Maret 2009)

Djabbar, Faisal. 2007. Pendidikan Antikorupsi Lewat Dongeng. http://www.kpk.go.id (10 Maret 2009)

Hermawan, Didik .Budaya Korupsi. http://www.wikimu.com. (12 Maret 2009)

Rahayu, Amin. 2005. Sejarah Korupsi di Indonesia. http://asepsofyan.multiply.com. (12 Maret 2009)

Tahmrin. 2006. Definisi Korupsi. http://thamrin.wordpress.com. (10 Maret 2009)

Taufik,Mohammad.MengubahDuniadenganGelombangOtak.http://alangalangkumitir.wordpress.com. (10 Maret 2009)

Zein, Sulaiman. 2008. Penanaman Nilai Moral untuk Anak Sejak Usia Dini.
http://bbawor.blogspot.com.(10 Maret 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar