PENDAHULUAN
Latar Belakang
Korupsi di Indonesia sudah
membudaya sejak dulu, sebelum dan sesudah kemerdekaan, di era Orde Lama, Orde
Baru, berlanjut hingga era Reformasi. Korupsi dapat didefiniskan sebagai suatu
tindak penyalahgunaan kekayaan negara (dalam konsep modern), yang melayani
kepentingan umum, untuk kepentingan pribadi atau perorangan. Akan tetapi
praktek korupsi sendiri, seperti suap atau sogok, kerap ditemui di tengah
masyarakat tanpa harus melibatkan hubungan negara.
Istilah korupsi dapat pula
mengacu pada pemakaian dana pemerintah untuk tujuan pribadi. Definisi ini tidak
hanya menyangkut korupsi moneter yang konvensional, akan tetapi menyangkut pula
korupsi politik dan administratif. Seorang administrator yang memanfaatkan
kedudukannya untuk menguras pembayaran tidak resmi dari para investor (domestik
maupun asing), memakai sumber pemerintah, kedudukan, martabat, status, atau
kewenangannnya yang resmi, untuk keuntungan pribadi dapat pula dikategorikan
melakukan tindak korupsi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas
korupsi, namun hasilnya masih jauh panggang dari api.
Titik tekan dalam persoalan
korupsi sebenarnya adalah masyarakat masih belum melihat kesungguhan pemerintah
dalam upaya memberantas korupsi. Ibarat penyakit, sebenarnya sudah ditemukan
penyebabnya, namun obat mujarab untuk penyembuhan belum bisa ditemukan.
Persoalan moral bangsalah yang sudah terlanjur sudah buruk sehingga
mengakibatkan budaya korupsi sukar dihilangkan.
Karena
budaya korupsi sudah mendarah daging maka perlu adanya suatu pendidikan moral
tentang anti korupsi. Pendidikan moral anti korupsi ini perlu diberikan sejak
dini pada anak. Mengapa harus diberikan pada anak sejak usia dini, hal ini
disebabkan karena pada usia tersebut pemikiran anak masih bersih belum
tercampuri kepentingan apapun. Salah satu metode yang digunakan adalah melalui
dongeng atau cerita. Metode ini sangat cocok diterapkan pada anak usia dini.
Dengan penanaman pendidikan moral anti korupsi yang diberikan pada anak sejak
usia dini, maka diharapkan kelak ketika anak tersebut sudah dewasa dan menjadi
pemimpin, pendidikan moral anti korupsi yang telah didapat akan diaplikasikan.
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di atas
salah satu alternatif solusi untuk menimalisir budaya korupsi di Indonesia
adalah dengan menanamkan moral anti korupsi lewat dongeng pada anak usia dini.
Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka
dapat diambil rumusan masalah yaitu :
1. Bagaimana cara menanamkan
moral anti korupsi lewat dongeng kepada anak?
2. Nilai-nilai anti korupsi apa yang harus
terkandung dalam dongeng?
Tujuan
Tujuan dari
penulisan karya tulis ini adalah untuk mengetahui :
1. Cara menanamkan
moral anti korupsi lewat dongeng kepada anak.
2. Nilai-nilai anti
korupsi apa yang harus terkandung dalam dongeng.
Manfaat
Beberapa manfaat
yang dapat diperoleh dari penulisan karya tulis ini yaitu :
1. Menambah khasanah pengetahuan tentang
manfaat dongeng sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada
masyarakat.
2.
2. Memberikan alternatif solusi terhadap masalah peredaran korupsi yang
semakin marak.
TELAAH PUSTAKA
Tinjauan Korupsi
Korupsi dapat didefiniskan sebagai suatu tindak
penyalahgunaan kekayaan negara (dalam konsep modern), yang melayani kepentingan
umum, untuk kepentingan pribadi atau perorangan. Akan tetapi praktek korupsi
sendiri, seperti suap atau sogok, kerap ditemui di tengah masyarakat tanpa
harus melibatkan hubungan negara. Istilah korupsi dapat pula mengacu pada
pemakaian dana pemerintah untuk tujuan pribadi. Definisi ini tidak hanya
menyangkut korupsi moneter yang konvensional, akan tetapi menyangkut pula
korupsi politik dan administratif. Seorang administrator yang memanfaatkan
kedudukannya untuk menguras pembayaran tidak resmi dari para investor (domestik
maupun asing), memakai sumber pemerintah, kedudukan, martabat, status, atau
kewenangannnya yang resmi, untuk keuntungan pribadi dapat pula dikategorikan
melakukan tindak korupsi.
Korupsi aealah nal vital yang menyebab kan
terhambatnya pembangunan di beberapa bidang selain itu karena korupsi
pembangunan tak akan pernah maksimal. Sebelum korupsi, kolusi dan nepotisme
(KKN) berhasil di berantas atau di kurangi secara siknifikan,kita tidak dapat
mencegah apapun dengan maksimal (Kwik kian gie,2008:4), selain itu yang
memperparah keberadaan korupsi itu sendiri ialah seakan-akan korupsi sudah
menjadi kebiasaan dan budaya oknum pemerintahan dalam menjalankan tugasnya.
Korupsi di Negara kita sudah mendarah-daging,cakupanya sangat luas dan
menyeluruh baik horisontal maupun vertikal. Sangat sulit mencari birokrat atau
penguasa yang belum terjangkit korupsi di dalam hidupnya (Kwik kian
gie,2008:7), jadi disini jelas korupsi adalah hal yang harus bisa kita
berantas, akan tetapi apabila kita memberantas korupsi dari berbagai masalah
yang ada sekarag ini ibarat menebang pohon besar dengan alat yang masih sangat
sederhana, maka pemberantasan korusi harus dilakukan dengan perbaikan akhlak
orang-orang sejak mereka masih kecil (Kwik kian gie,2008:9)
Penanaman Nilai Moral untuk Anak
Sejak Usia Dini
Pendidikan moral merupakan salah satu pendekatan yang dianggap sebagai
gerakan utama dalam pendidikan nilai secara komprehensif. Pendidikan moral
mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan mengatasi konflik, dan
perilaku yang baik, jujur, dan penyayang (kemudian dinyatakan dengan istilah
bermoral). Tujuan utama pendidikan moral adalah menghasilkan individu yang
otonom, memahami nilai-nilai moral dan memiliki komitmen untuk bertindak
konsisten dengan nilai-nilai tersebut. Pendidikan moral mengandung beberapa
komponen yaitu: pengetahuan tentang moralitas, penalaran moral, perasaan
kasihan dan mementingkan kepentingan orang lain, dan tendensi moral (Darmiyati
Zuchdi, 2003:13).
Pendidikan untuk anak usia dini (0-8 tahun) merupakan pendidikan yang
memiliki karakteristik berbeda dengan anak usia lain, sehingga pendidikannya
pun perlu dipandang sebagai sesuatu yang dikhususkan. Perkembangan
setelah tahun pertama ditandai dengan berbagai proses-proses yang sangat
fundamental. Misalnya perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian ditandai
pekembangan tingkah laku lekat. Tingkah laku lekat harus tumbuh dan menjadi setabil
sebagai latar belakang struktural tingkah laku yang akan datang. Dalam tahun
pertama harus dibuat suatu basis bagi timbulnya tingkah laku lekat yang nanti
akan memegang peranan yang esensial sepanjang hidup (F.J monks, A.M.P Knoers,
Siti rahayu haditomo, 2002:101)
Pendidikan anak usia dini di negara-negara maju mendapat perhatian yang
luar biasa. Karena pada dasarnya pengembangan manusia akan lebih mudah
dilakukan pada usia dini. Bahkan ada yang berpendapat bahwa usia dini merupakan
usia emas (golden age) yang hanya terjadi sekali selama kehidupan seorang
manusia. Apabila usia dini tidak dimanfaatkan dengan menerapkan pendidikan dan
penanaman nilai serta sikap yang baik tentunya kelak ketika ia dewasa
nilai-nilai moral yang berkembang juga nilai-nilai moral yang kurang baik.
Karena dimana dalam usia-usia ini anak sering meniru tingkah laku maka dalam
masa ini anak harus dapat dididik dengan baik, suatu tingkah laku dapat di
pelajari dengan meniru saja, dapat dicontohkan apabila sekelompok anak di tunjukan
film. Dalam film tadi ada orang dewasa(modelnya) berbuat sangat agresif
terhadap sebuah boneka sedangkan kelompok yang lain tidak melihat film
tersebut. Kemudian dua kelompok anak tadi dimasukan kedalam sebuah ruangan yang
penuh bonekah. Hasilnya kelompok anak yang melihat tingkah laku(Bandura dan
walters,1963). Oleh karena itu pendidikan anak usia dini adalah
investasi yang sangat mahal harganya bagi keluarga dan juga bangsa. Penanaman
moral anti korupsi dipandang sangat tepat diberikan pada anak usia dini karena
pada saat usia inilah setiap individu mengalami masa keemasan dalam menerima
pesan-pesan positif yang ingin dicapai.
Hakikat Dongeng
Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak
dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat
oleh waktu maupun tempat. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun
banyak juga dongeng yang melukiskan kebenaran, berisi ajaran moral, bahkan
sindiran (Agus : 2008). Pada mulanya kegiatan bercerita atau menuturkan cerita
hanya dilakukan dan ditujukan untuk orang dewasa, misalnya para prajurit,
nelayan, dan musafir yang sering kali tidur di tenda-tenda. Biasanya yang
diceritakan adalah cerita-cerita rakyat yang diturunkan secara turun temurun
dari mulut ke mulut. Namun, pada beberapa kebudayaan, para orang tua dan muda
berkumpul bersama untuk mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh seorang tukang
cerita atau pendongeng yang di beberapa kebudayaan biasanya merangkap sebagai
tabib. Selain menyampaikan hiburan, pendongeng biasanya juga menyampaikan atau
mengajarkan adat kebiasaan dan moral kepada orang muda.
METODE
PENULISAN
Pendekatan penulisan
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan karya
tulis ini adalah deskriptif kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan.
Pemilihan pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara cermat
mengenai keadaan atau gejala tertentu pada objek kajian. Dalam hal ini penulis
berusaha membuat deskripsi tentang penanaman nilai moral anti korupsi melalui
dongeng pada anak usia dini.
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penyusunan karya tulis ini adalah :
1. Studi Pustaka
Berdasarkan
permasalahan yang muncul maka penulis melakukan pencarian sumber-sumber pustaka
yang relevan dengan tema yang kami ambil dari buku-buku dan artikel yang kami
unduh dari internet. Sumber-sumber pustaka yang diperoleh kemudian dipelajari
dan dituangkan dalam kajian pustaka sebagai teori yang mendasari pembahasan dan
permasalahan yang dikaji.
2. Dokumentasi
Pada tahap ini penulis melakukan pengumpulan data yang berhubungan erat
dengan dokumen yang berasal dari buku, surat kabar, majalah dan artikel
mengenai korupsi dan pemecahannya. Data-data yang diperoleh kemudian dihimpun
berdasarkan prioritas manfaat sebagai landasan permasalahan.
Analisis Data
Kegiatan
analisis dilakukan dengan pendekatan teoritik berdasarkan hasil kajian pustaka.
Proses analisis data yang dilakukan dalam penulisan karya tulis ini mencakup
reduksi data dan sajian data.
Analisis reduksi data dilakukan dengan menyeleksi,
memfokuskan, dan menyederhanakan yang telah telah diperoleh berdasarkan sumber
pustaka. Analisi ini dilakukan guna mempertegas, meringkas, memfokuskan dan
membuang data yang tidak penting agar simpulan dapat diambil.
Setelah
melakukan reduksi data kemudian penulis melaksanakan tahap sajian data. Pada
tahap ini penulis menyusun informasi hasil dari tahap reduksi data kemudian
menyajikannya secara lengkap baik data yang diperoleh dari studi pustaka,
maupun dokumentasi kemudian dianalisis sesuai dengan kategori dalam
permasalahan yang ada guna memperoleh data yang jelas dan sistematis. Data ini
kemudian digunakan sebagai rujukan dalam pembahasan dan penarikan simpulan.
Penarikan Kesimpulan dan Saran
Pada tahap penarikan Kesimpulan dan saran
penulis menggunakan teknis induksi berdasarkan uraian pada pembahasan.
Berdasarkan pembahasan pula, penulis merumuskan beberapa saran agar pihak-pihak
yang terkait dapat mempertimbangkan solusi permasalahan untuk dapat
direalisasikan.
PEMBAHASAN
Penanaman Moral
Anti Korupsi Lewat Dongeng
Saddam Husein, mantan presiden dan
pemimpin besar Irak, terdidik dalam dongeng. Dalam buku Man and The City,
yang ditulisnya sendiri, saddam bercerita betapa dirinya sangat terpengaruh
cerita-cerita ibunya. Saddam menuturkan, dia kerap dipeluk ibunya sambil
ibundanya bercerita tentang para leluhur. “Ibu saya mendongengkan cerita-cerita
sambil membelai rambut saya”, tulis Saddam. Sejumlah pengamat menduga,
dongeng-dongeng yang didengar Saddam banyak mempengaruhi kepribadiannya setelah
dewasa. Saddam banyak terinspirasi oleh cerita dongeng sang ibunda.
Pengalaman serupa terjadi pada Hans
Christian Andersen. H. C. Andersen, penulis cerita anak terkemuka abad 19,
melalui autobiografinya, The True Story of My Life, menulis, “Setiap
minggu ayahku membuat gambar-gambar dan menceritakan dongeng-dongeng”. Ibunya
pun melakukan hal yang sama. Sang ibu mengenalkan dongeng-dongeng legenda
rakyat. Kecemerlangan Andersen menyusun kisah dipengaruhi pengalaman batin masa
kecil. Ketika dia menggambarkan dalam benaknya dongeng yang diceritakan orang
tuanya.
Berdasarkan pengalaman dua tokoh besar
tadi, bisa dikatakan bahwa dongeng ikut andil dalam pembentukan karakter anak.
Karena itu, dongeng berfungsi sebagai media pendidikan nilai-nilai keluhuran.
Menyebarkan pesan moral tanpa anak menyadari dirinya sedang disuntik
nilai-nilai kebaikan.
Dongeng menjadi jalan mewujudkan kaidah
dasar, bahwa penanaman nilai dapat dilakukan tanpa kesan memaksa dan menekan.
Malahan dongeng dan kegiatan mendongeng membentuk benih-benih sikap positif.
Sikap yang terus-menerus dibentuk hingga menjadi karakter anak setelah dia
dewasa.
Harus diakui, dongeng punya pengaruh luar
biasa. Anak-anak, target utama penceritaan dongeng, mudah terbujuk oleh
cerita-cerita dongeng. Penelitian mengungkapkan bahwa dongeng bisa
mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual anak. Dongeng
sanggup mengembangkan moral guna mengetahui perbuatan yang baik dan buruk.
Psikolog Ninok Widiantoro mengatakan,
dongeng bisa menciptakan sisi kepekaan sang anak. Tokoh dan karakter yang
diceritakan dalam dongeng akan selalu diingat oleh sang anak, apakah itu tokoh
baik maupun tokoh jahat. Cerita dongeng juga dapat berpengaruh bagi kesembuhan
anak yang sedang sakit, terutama dampak psikologisnya. Selain itu, dari
berbagai cara untuk mendidik anak, dongeng merupakan cara paling ampuh dan
efektif untuk memberikan sentuhan humanis dan sportifitas bagi anak. Dongeng
berpengaruh pada cara berpikir, moral, dan tingkah laku.
Dongeng membentuk dan mengembangkan
imajinasi anak. Hal ini selaras dengan hasil kajian Robert Fulghum. Pakar anak
ini, dalam salah satu bukunya, pernah mengatakan bahwa imajinasi lebih kuat
dari pengetahuan dan impian lebih kuat dari fakta. Fulghum bahkan menegaskan,
menghadirkan dunia imajinasi sejak dini sangat bermanfaat bagi kesehatan anak.
Selain itu, dongeng berguna untuk
memasukkan nilai dan etika secara halus kepada anak. Dongeng akan menanamkan
sikap mental yang bersemangat dan tanggung jawab pada diri si anak. Pesan
moral, ajaran pekerti, dan pendidikan karakter yang terkandung dalam dongeng
akan memberikan keteladanan dan panutan bagi anak.
Atas dasar pemikiran seperti itu, rupanya
dongeng sejalan dengan tujuan pendidikan antikorupsi. Yakni pembentukan manusia
yang mempunyai pemahaman, sikap, dan
perilaku yang anti terhadap korupsi. Terutama pendidikan antikorupsi kepada
anak dini usia.
Nilai-Nilai Anti Korupsi Dalam Dongeng
Pendidikan antikorupsi adalah perpaduan
pendidikan nilai dan karakter. Sebuah karakter yang dibangun di atas landasan
kejujuran, integritas, dan keluhuran. Dalam kaitan itu, dongeng bisa menjadi
sarana penanaman nilai-nilai antikorupsi. Pertanyaannya, nilai-nilai
antikorupsi seperti apa yang selayaknya diberikan melalui dongeng?
Korupsi bisa timbul karena dua sebab. Sebab pertama, korupsi karena kebutuhan (corruption by need).
Korupsi yang timbul ketika
penghasilan tidak lagi bisa menanggung kebutuhan dasar sehari-hari. Jalan
keluarnya biasanya dengan mengambil sikap menyimpang. Melakukan korupsi. Sebab
kedua, korupsi karena keserakahan (corruption by greed). Tidak puas
dengan satu gunung emas, cari gunung emas kedua dan ketiga. Sudah punya rumah,
ingin motor. Sudah ada motor, mau mobil. Mobil terbeli, ingin mobil mewah.
Kedua jenis korupsi tersebut, korupsi
karena kebutuhan maupun karena kerakusan, memang tak bisa ditolerir. Namun,
penanganan keduanya mengharuskan cara berbeda. Korupsi karena kebutuhan timbul
karena kondisi obyektif yang tidak mendukung. Karena sistem yang tidak
memberikan harapan kesejahteraan. Oleh sebab itu, perbaikilah sistem. Sementara,
korupsi karena kerakusan disebabkan kondisi subyektif. Kondisi internal
seseorang. Adanya sifat tamak, tidak puas, dan keinginan memperkaya diri
sendiri. Korupsi yang dikerjakan oleh mereka yang nuraninya sudah buta. Ingin
sejahtera tanpa mau kerja keras. Karenanya, untuk memberantas korupsi jenis
ini, perbaikilah orangnya.
Korupsi karena tamak lebih bahaya
ketimbang korupsi karena kebutuhan. Kerakusan, dusta, ketidakjujuran merupakan
perilaku yang bisa terbentuk sejak kecil. Sejak masa kanak-kanak. Perilaku ini
adalah kumpulan dari apa yang dialami dalam proses hidup, mulai usia dini
hingga dewasa. Teori psikologi kognitif menguatkan argumen ini. Menurut
psikologi kognitif, apa yang kita dengar, lihat, pikirkan, rasakan, dan alami
akan mempengaruhi cara pandang dan perilaku kita. Singkatnya, perilaku kita
merupakan resultante dari apa yang kita pikir, rasa, dan lakukan. Dengan
demikian, apa yang kita lihat dan dengar semasa kecil juga akan membentuk
karakter kita bila dewasa kelak. Karena itu, nilai-nilai antikorupsi dalam
dongeng adalah nilai-nilai yang mempromosikan kesederhanaan, kejujuran, dan
daya juang. Selain itu, juga nilai-nilai yang mengajarkan kebersamaan,
setiakawan, dan kedisiplinan. Namun, tentu saja, tidak semua cerita dalam
dongeng bisa berguna. Sebagai contoh adalah
dongeng si kancil mencuri ketimun petani. Si kancil dikisahkan hewan
yang cerdas, cerdik, dan lincah. Dengan kecerdikannya, si kancil mengelabui
petani, untuk kemudian berhasil mencuri ketimun. Si kancil sulit tertangkap
oleh petani. Suatu kali petani berhasil menangkap basah si kancil. Tetapi
dengan kelihaiannya, kancil berkelit dari jerat hukuman.
Cerita kancil di atas mungkin saja telah
meracuni pikiran anak. Anak mengira mencuri adalah sesuatu yang wajar. Anak
memiliki anggapan bahwa kepintaran merupakan keunggulan seseorang yang
bermanfaat untuk mencuri. Karena itu, sesuai nilai antikorupsi yang ingin
disebarkan, maka kita perlu cerita dongeng yang memuat figur-figur yang jujur,
berani, kompetitif, dan bertanggungjawab. Bukan figur yang memakai
kecerdikannya untuk memperdaya orang lain. Dongeng dan mendongeng adalah salah
satu bentuk pendidikan nilai, yang pada gilirannya mendukung upaya pendidikan
antikorupsi. Sebuah pendidikan antikorupsi yang dimulai dari usia dini. Pendidikan
antikorupsi diharapkan membentuk karakter individu, hingga pada gilirannya akan
membentuk karakter bangsa secara keseluruhan.
Contoh Dongeng
Monyet yang Serakah
Alkisah dipinggir hutan belantara hidup segerombol
monyet yang berkuasa diwilayah tersebut,setiap hari monyet-monyet tersebut
mengambil buah-buahan milik binatang kecil lainya tanpa pernah bekerja keras,
suatu pagi seperti biasanya dimana sang
monyet itu menghampiri sang tupai yang sedang mengambil pepaya:
Monyet : “Pagi binatang cantik.???sedang ngapai
nich...???kayaknya asik nich, boleh ikutan gak...?????”
Tupai : “Ppppaagiiii tuuuaann monyet (sambil
ketakutan) ini kami sedang mengambil buah pepaya.”
Monyet : “Hemmm....!!!!!coba tunjukan buah yang kau
dapatkan.....!!!!”
Tupai : “Ini cuma buah yang agak busuk untuk makan
anak-anak kami tuan (sambil menunjukan buah tersebut)”
Monyet : “Heeeeemmmm (sambil mengeluarkan air liur)
kayaknya enak nich..???aku boleh minta sedikit untuk sarapan pagi ini
tidak...???”
Tupai : Jaanggannn tuan....!!!!(sambil gugup dan
takut) ini hanya sedikiyt untuk makan anak kami...!!!”
Monyet : “Apa kamu berani menentang perkataan ku
(dengan nada marah dan mengancam) kamu mau cari mati...??? kamu tahu siapa
penguasa disini........??????”
Tupai : “Sekali lagi beribu ampun sang
paduka...!!!!!bukan maksut hamba untuk menolak..!!!tapi anak-anak kami sedang
kelaparan...!!!!”
Monyet : “Sudah persetan dengan anak-anak
kalian....!!!!mau tidak mau makanan itu untu aku....!!!!!! (sambil mengambil
makananitu dan kabur)”
Seperti
yang biasa terjadi setiap pagi sang monyet hanya bisa mengambil makanan dari
binatang-binatang kecil lainya,tiba suatu pagi sang monyet bertemu dengan
kancil yang berlari indah dan sang monyet segera menyapanya:
Monyet : “Pagi kancil yang lucu....????sedang ngapain
nich....???tambah cantik nich...????”
Kancil : “Biasalah nyet kalo pagi saya jalan-jalan
agar tubuh ini semakin kuat...!!!!”
Monyet : “Terus apa gerangan yang sedang kau
bawa....???? (penuh rasa tanya)”
Kancil : “Ooww.....!!!!ini....????ini buah timun yang
aku bawa dari kebun diujung sana....????mumpung masih segar saya bawa
aja.....!!!!!”
Monyet : “Masih segar yaaa...???berarti enak
dong....???? (sambil menelan air liur karena penasaran)”
Kacil : “Iya nyet rasa enak sekali.....!!!!!apalagi
ini masih segar....!!!!!pokoknya lezat dech...!!!!”
Monyet : “Enak ya ncil...????(air liurnya sudah
keluar menahan rasa ingin mencicipi) bagidong nyet...!!!!!”
Kancil : “Enak saja....!!!!!saya tak akan membagi
buah yang sangat segar ini...!!!!”
Monyet : “Kamu
menentang mau aku...????kamu tau siapa aku....!!!!!sudah bosan
hidup......!!!!jangan lari ku bunuh kau.....!!!!! (sambil memandang penuh
murka)”
Kancil : “Dari
pada kamu membunuh aku hanya demi mendapat timun ini mending kamu pergi keujung
hutan ini....!!!!(sambil meyakinkan)sampai diujng sana kamu akan menemui kebun
mentimun yang sangat luas sekali...!!!!selain itu disana juga banyak pohon
pisang dan buah-buahan yang lainya.....!!!!!!!!”
Monyet : “Serius
kamu ncil....?????kamu gak bohong kan.....????? (sambil diliputi rasa penasaran
dan ingi tahuu)”
Kancil : “Apakah
mukaku ini menunjukan kebohongan.....!!!!!(sambil meyakinkan monyet)”
Monyet : “Ok....????aku parcaya sama
kamu....!!!!!tapi kalau kamu bohong jangan harap hidupmu bertahan lama.”
Setelah mendengar perkataan kancil
sang monyet segera berlari menuju ujung hutan yang dimaksut sang kancil,setelah
cukup lama berlari sang monyet sampai kesebuah kebun yang dimaksutkan oleh sang
kancil:
Monyet : Ternyata
apa yang dikatan sang kancil adalah benar...!!!!sekarang daerah ini adalah area
kekuasaanku......!!!!(sambil menikmati buah ketimun)
Lagi
asik-asik makan mata sang monyet tertuju pada sepetak kebun pisang yang penuh
dengan pisang siap panen. Dengan sepontan sang monyet menuju kebun pisan
tersebut untuk berpesta,satu demi satu pisang itu dimakan hingga tak terasa
sang monyet menghabiskan bertundn-tundun pisang hingga perutnya besar,walaupun
perut monyet sudah besar akan tetapi sang monyet masih melanjutkan menyantap
pisang yang diperoleh dengan Cuma-Cuma itu.
Disisi lain pak tani yang memiliki kebun pisang tersebut datang kekebun
bermaksut memanen buah pisang yang sudah masak. Akan tetapi sesampainya dikebun
pak tani melihat kulit buah pisang yang berserakan dalam jumlah banyak,dengan
sepontan pak tani marah dan mencari penyebabnya. Tak lama dicari pak tani
melihat sang monyet sedang asik makan diatas buah pisang,dengan nada marah pak
tani mendekati monyet:
Pak Tani : Monyet
kurang ajar...!!!bisanya hanya mencuri kerja orang (sanbil melempar sabit ke
arah monyet)
Karena sang monyet
terlalu kenyang memakan buah pisang sehingga sang monyet tak bisa menghindar
dari sabetan parang pak tani,dengan seketika parang tersebut mengenai kepala
monyet dan akhirnya monyet tersebut mati ditangan pak tani
Monyet dan Katak
Alkisah ada seekor
monyet dan seekor katak hidup berdampingan,jika pegi datang sang monyet
menggelantung dari satu pohon kepohon lainya untuk mencari makan sedangkan sang
katak menyelam kesungai untuk menangkap ikan ikan kecil,setelah kenyang dengan
buruanya biasanya mereka beristirahat dibawah pohon besar secara bersama-sama
sambil bercerita. Suatu pagi yang cerah sang monyet sedang berbincang-bincang
dengan katak:
Monyet : “Hai
tak bagaimana buruanmu hari ini....????aku cukup kenyang menyantap pisang kali
ini.”
Katak : “Sama
hari ini aku cukup kenyang menangkap ikan-ikan kecil...!!!tapi nyet aku capek
banget tiap hari harus mengejar-ngejar ikan...!!!kadang aku kasihan sama
induknya.”
Monyet : “Bener
juga ya tak..??kadang aku juga merasa capek harus menggelantung dari satu pohon
kepohon lainya.”
Katak : “Terus
apa yang harus kita lakukan agar kita bisa hidup enak tanpa harus capek-capek
cari makan...????”
Monyet : “Oya
kan setiap hari disungai ini ada pohon pisang yang hanyut terbawa
arus...!!!!bagaimana kalau kita ambil pohon itu untuk kita tanam...????”
Katak : “Aku
setuju..!!terus siapa yang akan ambil batang pisang itu..??
Monyet : “Kan
kamu pandai berenang bagaimana kalau kamu yang bertugas membawa batang pisang
itu ketepi,setelah sampai ketepi sisanya giliran aku yang bawa keatas..!!setuju
gak kamu...???”
Katak : “Aku
rasa saranmu cukup adil..!!ok kita mulai bekerja.”
Setela kesepakatan terjadi mereka
bersiap ditepi sungai untuk mengawasi kalau ada pohon pisang yang lewat,setelah
sekian lama menunggu akhirnya ada satu batang pohon yang terbawa arus
sungai,seperti kesepakatan mereka membagi tugas untuk bekerja. Akan tetapi
setelah senja menjelang tidak ada satu batang pohon pun yang ikut terbawa arus
sungai,setelah bosan menunggu akhirnya mereka berdiskusi:
Monyet : “Tak
ternyata setelah menunggu seharian kita hanya dapat menemukan sebuah batang
pisang saja..!!(dengan muka kecewa) punya solusi bagaimana tak...????”
Katak : “Mending
kita bagi dua saja batang ini...!!!!kita potong pohon ini menjadi dua....!!!!”
Monyet : “Ok...!!!!
(sambil memotong batang pisang menjadi dua bagian yakni atas dan bawah)”
Katak : “Akhirnya
kita berhasil memotong menjadi dua...!!!!sekarang kita bagi...!!!aku yang atas
dan kamu yang bawah..??”
Monyet : “Tunggu
sebentar.....!!!!!(sambil berfikir bahwa pohon pisang kan yang buah yang atas
bukan yang bawah,maka sang monyet bermaksut mengkibuli sang katak) oya kan buah
yang menyerap makanan kan akarnya mending kamu aja yang bawah”
Katak : “Tapi
bukanya yang berbuah yang atas..??(sambil berfikir karsna menjadi bingung)”
Monyet : “Tapi
yang menyerap makanan akarnya.(sambil meyakikan sang katak)”
Katak : “Ok....!!!!aku
terima tawaranmu.”
Lalu mereka pergi ketempat
masing-masing untk menanam pohon pisang. Setelah tiga minggu berlangsung sang
monyet menghampiri katak:
Monyet : “bagaimana
kondisi pohon pisangmu tak....???”
Katak : “pohon
pisangku mulai berdaun..!!(sambil tersenyum bahagia) kamu sendiri.?bagaimana
pohon pisangmu..??”
Monyet : “sama”
Setelah satu bulan seperti yang
kita ketahui bahwa pohon pisang yang mampu tumbuh yang bawah tak hayal maka
pohon pisang milik sang monyet pun mati dan sang monyet ingin melihat pohonsang
katak:
Monyet : “Bagaimana
pohon pisangmu..??”
Katak : “Pohon
pisangku sudah mulai berbuah...!!!!milik kamu..??”
Monyet : “Sama”
Setelah satu bulan sang monyet
berkunjung lagi:
Monyet : “Bagaimana
pohon pisangmu..??”
Katak : “Buahnya
sudah masak-masak untung kamu kesini kan kamu tahu sendiri aku tak bisa
memanjat buah..!!maukah kamu menolong aku...??”
Monyet : “Untuk
seorang sahabat pasti aku bantu..!!!tapi aku dapat bagianya kan....???”
Katak : “Ok...!!!!kamu
aku kasih sepertiga bagian”
Lalu sang katak memanjat pohon
itu,sesampainya diatas sang katak mencicipi buah pisang itu,karena rasanya
manis sang monyet pun menghabiskan semua pisang itu dan sang katak hanya
dikasih kulit pisang saja. Karena sang katak marah maka pohon itu langsung ditebang,karena
terlalu asik makan pisang sang monyet tak sadar kalau pohon itu telah ditebang
sang katak. Setelah pisang siatas sudah habis sang monyet baru sadar kalau
pohonya sudah ditebang,ahirnya sang monyet telat untk menghindar dan ikut jatuh
bersama pohon pisang.akan tetapi naas bagi monyet saat terjatuh perut monyet
mendarat diatas patahan batang bambu yang runcing yang mengakibatkan monyet
tersebut mati
KESIMPULAN DAN
SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dijelaskan
sebelumnya, dapat disimpulkan :
1. Berdasarkan data dari Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) Indonesia mempunyai angka tingkat korupsi
yang sudah sangat memprihatinkan. Banyak pejabat yang terlibat kasus korupsi
dari tingkat pusat sampai daerah. Tidak hanya para pejabat, budaya korupsi juga
sudah mendarah daging pada masyarakat yang dimana seakan akan korupsi merupakan hal pokok dalam masyarakat
tersebut dengan berbagai cara
untuk melakukakannya sesuai dengan bidang pekerjaannya.
2. Sudah lunturnya nilai moral yang dialami
masyarakat,pejabat dan kaum
terpelajar pada umumnya
menyebakan angka tingkat korupsi semakin meningkat dari tahun ke tahun.
3. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu
adanya suatu alternatif solusi untuk meminimalisir tindak pidana korupsi baik
dari skala kecil maupun skala besar. Salah satunya adalah penanaman nilai moral
anti korupsi lewat dongeng kepada anak yang mana diharapkan dengan ini anak-anak bisa termotivasi untuk meniru
contoh yang baik atau menghindari contoh yang buruk dari dongeng tersebut.
4. Penelitian yang telah ada mengungkapkan
bahwa dongeng bisa mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, dan
spiritual anak. Dongeng sanggup mengembangkan moral guna mengetahui perbuatan
yang baik dan buruk. Melalui dongeng ini diharapkan penanaman moral anti korupsi lewat dongeng ini diharapkan dapat membentuk kepribadian
baik. Sehingga, di masa depan tindak pidana korupsi dapat diminimalisir secara
maksimal
Saran
Peran serta masayarakat dan pemerintah
melalui melalui pihak-pihak terkait yang dalam hal ini adalah Departeman
Pendidikan Nasional bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi sangat
diharapkan untuk dapat mensosialisasikan program tersebut dalam bidan
pendidikan formal ditingkat dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Agus. 2008. Pengertian Dongeng. http://linaleebon.blogspot.com. (10 Maret
2009)
Djabbar, Faisal. 2007. Pendidikan Antikorupsi
Lewat Dongeng. http://www.kpk.go.id (10
Maret 2009)
Hermawan, Didik .Budaya Korupsi. http://www.wikimu.com.
(12 Maret 2009)
Rahayu, Amin. 2005. Sejarah Korupsi di Indonesia. http://asepsofyan.multiply.com.
(12 Maret 2009)
Tahmrin. 2006. Definisi Korupsi. http://thamrin.wordpress.com.
(10 Maret 2009)
Taufik,Mohammad.MengubahDuniadenganGelombangOtak.http://alangalangkumitir.wordpress.com.
(10 Maret 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar