DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
FAKULTAS ILMU
SOSIAL
PROPOSAL SKRIPSI
Nama : Slamet Aribowo
NIM : 3401408009
Jurusan : Hukum dan Kewarganegaraan
Prodi : Pendidikan Kewarganegaraan
I.
JUDUL
PENANAMAN KARAKTER
KEPEKAAN SOSIAL DAN LINGKUNGAN MELALUI EKSTRAKULIKULER TEATER DI SMA
II.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Dalam mewujutkan penmbangunan di
Indonesia dibutuhkan sumber daya manusia yang bermutu dalam jumlah yang banyak.Oleh karena itu pendidikan memiliki peranan yang sangat
penting untuk meningkatkan mutu dan kualitas sumber daya manusia yang ada. Hal
ini sejalan dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada
Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan nasional memiliki
tujuan untuk membentuk potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki ahlak yang mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.
Demi tercapainya fungsi dan
tujuan pendidikan nasional, pendidikan di Indonesia harus diselenggarakan
secara sistematis.Hal ini erat kaitanya dengan pembentukan peserta didik yang
berkarakter sehingga mampu bersaing dan berinteraksi dengan masyarakat.
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim
Akbar, 2000), menjelaskan bahwa kesuksesan manusia tidak semata-mata ditentukan
oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill), akantetapi lebih oleh
kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini
menjelaskan bahwa kesuksesan manusia 20% ditentukan oleh hard skill dan sisanya
80% ditentukan oleh soft skill.Halini ini membuktikan bahwa pendidikan
berkarakter sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.
Karakter adalah suatu system
kesatuan nilai manusiayang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan.Hal ini dapat terwujud
dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, serta perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Sedangkan pendidika karakter
merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta
didik.Penanaman nilai karakter ini meliputi komponen pengetahuan, kesadaran
atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.Baik
terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun
kebangsaan.Hal ini bertujuan agar peserta didik benar-benar memiliki karakter
yang bagus dalam kehidupan bermasyarakat.Guna mewujudkan pendidikan yang
berkarakter di sekolah harus melibatkan semua komponen.Hal ini meliputi
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran
dan penilaian, hubungan antara individu, penanganan atau pengelolaan mata
pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan eksta
kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh
warga dan lingkungan sekolah.
Keluar dari kontek kekurangan
dalam aplikasi pendidikan di indonesia apabila dilihat dari tujuan pendidikan
naional. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan
dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada
tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan
internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter erat kaitanya
dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan ini meliputi bagaimana
pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam
kegiatan-kegiatan pendidikan baik saat proses pembelajaran ataupun diluar
proses pembelajaran di sekolah. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi,
nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian,
pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya.
Menurut Mochtar Buchori (2007),
pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara
kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai
secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada perlu segera
dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya
secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.
Kegiatan ekstra kurikuler yang
selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial
untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik.Kegiatan
Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk
membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat,
dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik
dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di
sekolah.Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan
kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta
didik.
Pendidikan karakter ternyata tidak
hanya cukup diajarkan melalui mata pelajaran di dalam kelas saja. Pendidikan
karakter harus diterapkan melalui kegiatan- kegiatan pembiasaan, baik secara
spontan maupun dengan keteladanan. Di sinilah kegiatan siswa bergaul secara
intensif dengan drama/teater, baik sebagai karya seni sastra maupun sebagai
karya seni pertunjukan, menemukan fungsi ruang dan waktunya demi terdidiknya
karakter mereka.
Salah satu cara yang pas
melaksanakan pendidikan karakter kepada siswa adalah melalui kesenian. Dalam
setiap kesenian (lokal) terdapat pesan-pesan moral yang bisa disampaikan dengan
cara yang menyenangkan (dulce et utile), atau suka, senang, bahagia karena
menikmati tontonan (yang dikemas dengan tatanan) dan tanpa sadar atau tanpa
terasa kemasukan tuntunan.
Seni (termasuk di dalamnya seni
drama atau teater) mencoba mendeskripsikan sebuah gejala dengan sepenuh-penuh
maknanya. Seni mencoba mengungkapkan objek penelaahannya itu sehingga menjadi
bermakna bagi pencipta dan mereka yang meresapinya, lewat berbagai kemampuan
manusia untuk menangkapnya, seperti pikiran, emosi, dan pancaindera. Karya seni
ditujukan untuk manusia dengan harapan bahwa pencipta dan objek yang
diungkapkannya mampu berkomunikasi dengan manusia yang memungkinkan dia
menangkap pesan yang dibawa karya seni itu. Sebuah karya seni yang baik
biasanya mempunyai pesan yang ingin disampaikan kepada kita semua, apakah itu
bersifat moral, estetik, gagasan pemikiran, atau politik. Karena pesan itu
berupa ‘imbauan’ yang bisa mempengaruhi sikap dan perilaku manusia, maka seni
sungguh-sungguh memegang peranan penting dalam pendidikan moral dan budi
pekerti sebuah bangsa (Suriasumantri, 1984: 106-107).
Dalam kaitan dengan pendidikan
drama, pembelajaran drama, atau pergelaran drama di lingkungan sekolah atau
siswa, diperlukan dua syarat utama, yakni syarat seni dramanya dan syarat
pedagogisnya, yang kedua bersifat komplementer. Untuk itu, diperlukan lakon
atau cerita yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan sesuai dengan alam
kejiwaan anak. Lakon mesti yang dapat ‘dimainkan’ oleh anak-anak dan
pengemasannya (dekor, properti, dan lain-lain) tidak terlampau sulit. Demikian
halnya laku dalam lakon pun mesti yang dapat dilakukan oleh anak-anak dengan
perlengkapan dan kelengkapan yang ada atau yang mungkin diadakan. Dialog-dialog
diusahakan bisa hidup, ‘cair’, dan relatif mudah diucapkan oleh anak dengan
tetap memperhatikan syarat-syarat etika.
Anak-anak mesti memiliki
kesanggupan untuk bermain drama, baik ketika menghadapi naskah maupun ketika
harus bermain di atas panggung yang sebenarnya. Mereka mesti mampu membawakan
dialog dengan tepat dengan diikuti perasaan atau penghayatan. Mereka mesti
memiliki persiapan batin dan mengenal dengan baik watak-watak atau karakter
tokoh-tokoh yang akan diperankannya. Pengoptimalan penggunaan artikulator dan
titik artikulasi mesti dilakukan. Memerankan tokoh sama dengan memberikan
bentuk lahir pada watak dan emosi dengan laku dan ucapan. Watak yang harus
diperankan menurut Richard Boleslavsky (melalui Harymawan, 1988: 30-41)
mempunyai tiga bagian yang harus tampak, yakni watak tubuh, watak pikiran, dan
watak emosi. Anak bisa menciptakan sebuah peran berarti anak itu sudah
menciptakan keseluruhan hidup sukma manusia di atas panggung, baik secara
fisik, mental, dan emosional, dan itu harus unik.
Faktor lain yang juga perlu diperhatikan oleh anak-anak adalah
bangunan suasana drama. Betapa pun bagusnya lakon dan penyuguhan yang tepat,
jika kurang didukung oleh suasana, tentu saja drama itu kurang berhasil. Unsur
dukungan dari penonton cukup dibutuhkan dalam membangun suasana. Untuk itu,
diperlukan lakon yang tepat, penyajian yang bagus, penataan artistik (busana,
rias, lampu, suara, panggung, properti) yang tepat, dan penonton dibina untuk
mampu menjadi penonton yang apresiatif.
Kegiatan drama atau teater bisa
membantu anak ke arah pembentukan pribadinya yang erat hubungannya dengan
pembentukan sikap sosial anak. Anak semakin menyadari bahwa masing-masing
individu terjadi atas tiga dimensi, yakni sebagai makluk ciptaan Tuhan, sebagai
makhluk individu, dan sebagai makhluk sosial. Anak-anak tidak hanya terbentuk
menjadi manusia-manusia materialistis semata-mata, melainkan menjadi
manusia-manusia yang mampu menghargai dan mengimplementasikan nilai-nilai budi
pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Bimbingan dan pendidikan estetika (drama)
cukup signifikan untuk menyalurkan emosi anak-anak ke arah yang menguntungkan
pembentukan pribadi yang baik. Pendidikan estetika menjadikan anak-anak mampu
menghargai keindahan, kehalusan, dan ketertiban/kedisiplinan.
Sudah dipahami bersama bahwa esensi
drama adalah konflik manusia. Perhatian terhadap konflik kemanusiaan itulah
yang menjadi dasar dari drama. Maka, siswa yang bergaul secara akrab dengan
seni drama, di samping merasakan dan menghayati keselarasan dan keindahan drama
itu, anak-anak memiliki pengalaman jiwa ikut merasakan dan menghayati
pergolakan batin atau konflik-konflik yang terjadi di kalangan manusia, entah
itu konflik manusia yang satu dengan manusia yang lain, manusia dengan lingkungannya,
manusia dengan alam, bahkan mungkin manusia dengan penguasa, bahkan mungkin
dengan Tuhan. Anak-anak memiliki pandangan yang relatif mendalam tentang
sifat-sifat watak manusia serta hidup dan kehidupannya. Melalui lakon atau
pergelaran drama, anak-anak mendapatkan pemahaman tentang psikologi watak-watak
manusia. Berangkat dari itu, anak-anak akan mendapatkan pengetahuan yang lebih
mendasar tentang sifat-sifat manusia lain (pada umumnya) dan tentang dirinya
sendiri.
Drama atau teater menyediakan kesempatan
kepada anak-anak untuk mempelajari psikologi manusia dengan berbagai
perilakunya, dengan pelbagai tingkah lakunya. Anak-anak mempunyai kesempatan
memerankan tokoh. Peran tokoh itu tentu saja dihayatinya dengan baik, sehingga
tanpa sadar prosesi itu akan sangat membantu anak-anak dalam proses pendewasaan
diri. Anak-anak mengidentifikasikan diri mereka dengan tokoh-tokoh yang
dibawakannya, pun mengenal secara baik problem-problem tokoh tersebut. Demikian
pula, anak-anak tahu secara persis nilai- nilai (moral) yang diperjuangkan oleh
tokoh-tokoh, sehingga anak-anak cukup terlatih dalam upaya memecahkan
problemnya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
Drama memberikan peluang secara
strategis kepada anak-anak untuk berkenalan dan mengenal manusia yang sangat
boleh jadi perwatakannya jauh lebih hebat dibanding dengan dirinya sendiri.
Dengan begitu, anak-anak menemukan ‘hero’ di dalam drama yang digaulinya secara
intensif, yang mau tidak mau, itu akan berpengaruh dalam pembinaan dan
pengembangan pribadi dan pematangan jiwa anak.
Berkegiatan drama/teater yang
dilakukan secara rutin atau berkesinambungan bisa berdampak positif bagi
anak-anak karena mereka cenderung menjadi betah bergaul dengan orang lain tanpa
memandang status sosial. Mereka bisa saling menghormati pendapat orang lain,
sabar mendengarkan pembicaraan orang lain. Anak-anak menjadi terbiasa dengan
‘pertentangan pendapat’ di antara mereka, berjiwa toleran, berani menentang
hal-hal yang tidak baik, demikian seterusnya.
Anak-anak dengan sering bergaul
dengan cerita atau lakon-lakon drama akan banyak mengambil keuntungan karena
anak-anak banyak melihat dan menyaksikan betapa seorang tokoh menyusun pikiran
dan perasaan dengan sebaik mungkin untuk disampaikan kepada orang (tokoh) lain.
Dengan itu, anak-anak akan terbiasa dan secara mudah dan lancar untuk
mengemukakan pikiran dan perasaan secara logis dan sistematis di depan orang
banyak secara lisan. Di samping itu, anak-anak akan memperoleh kekayaan
kosakata yang luar biasa yang mungkin tidak akan mereka dapatkan dalam bahasa
yang dipergunakan sehari-hari.
Kita juga tahu bahwa kegiatan drama
(teater) adalah kegiatan kolektif yang memerlukan kesetiaan, kedisiplinan yang
tinggi, rasa tanggung jawab, dan kerjasama yang baik. Maka, tidak mustahil pada
diri anak-anak akan tertanam dalam-dalam sikap atau perilaku gotong-royong dan
bekerjasama dalam rangka menggapai tujuan bersama. Casting pun cukup bermanfaat
untuk anak-anak, yakni menumbuhkembangkan kesadaran berkompetisi secara sehat,
yang berbuah pada dorongan untuk selalu mau dan mampu berusaha secara optimal.
Dalam kegiatan drama (teater),
ternyata baik pemain (aktor/aktris) maupun penonton (pemirsa, audience)
sama-sama mendapatkan keuntungan. Pemain atau aktor/aktris yang bermain drama
adalah orang-orang yang memperoleh kesempatan besar untuk menemukan dirinya
(Saleh, 1967: 213). Sementara itu, penonton atau pemirsa/audience dari waktu ke
waktu mesti belajar menjadi penonton yang baik, santun, dan bermartabat. Kedua
keuntungan tersebut merupakan faktor penting untuk perkembangan kemanusiaan
dari individu yang mengalaminya.
Pernah dibuktikan di Amerika
Serikat bahwa educational theatre teramat bermanfaat sebagai salah satu cara
untuk mengendorkan ketegangan emosi siswa dan memberikan kontribusi yang
berarti untuk kesehatan mental anak-anak (Sihombing, 1974: 459). Maka tak ayal
kalau ada juga pernyataan yang menegaskan bahwa ‘... It is also a literary form
which is capable of adaptation for students of all ages. Being closely linked
with the fundamental instinct of imitation – which obviously implies a close
degree of observation – its value in education is becoming widely appreciated.
Educationists see drama as a means where by the young can progress towards
maturity by trying out and experimenting with various roles which they need to
have some appreciation of in order to obtain a full grasp of the world they are
entering: ...‟ (Moody, 1972: 62).
Pembelajaran drama juga cukup
memberikan kontribusi kepada proses pembelajaran yang lain dalam pengetahuan
dan kepandaian, misalnya dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa,
kesusasteraan, bercakap dengan irama, menghilangkan tabiat malu, menggembirakan
karena drama (sandiwara) bersifat permainan, memberikan beberapa pengertian
baru, berlatih gerak irama, menyanyi, menyesuaikan kata dengan pikiran, rasa,
kemauan, dan tenaga, mengajarkan adat sopan santun, dan seterusnya (Dewantara,
1962: 310).
Drama (sandiwara) sebagai media
pembelajaran pun teramat strategis dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan
mengingat drama (sandiwara) bersifat sangat menarik minat dan mengikat
perhatian (Saleh, 1967: 213). Hal itu berkaitan dengan tuntutan eksistensi
drama yang to act a story dan bukan hanya to tell a story sebagai berikut:
„Drama does not tell, it shows. And the word drama in its literary usage means
simply that: showing instead of telling, or perhaps better, telling by showing
(Lisle at al, t.t.: 255). Sandiwara (istilah
yang bersinonim dengan drama) dalam kebudayaan Indonesia diakui sebagai
kesenian yang diperuntukkan penyiaran pendidikan dan pembelajaran. Hal itu
bersesuaian dengan istilah ‘sandiwara’ yang berasal dari kata ‘sandi’
(tertutup, rahasia) dan kata ‘wara’ (pembelajaran), sehingga secara keseluruhan
bermakna pembelajaran yang diberikan secara perlambang (Dewantara, 1962: 350),
secara tidak terang-terangan, secara tidak vulgar. Maka, dengan menggauli drama
(sandiwara) secara intensif, baik memainkan maupun menonton, anak-anak tanpa
dipaksakan, tanpa terasa dimasuki pesan-pesan atau amanat-amanat yang
terkandung dalam drama (sandiwara).
III.
RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang dapat diambil adalah
sebagai berikut:
1.
Bagaimana
penerapan penanaman karakter kepekaan sosial dan
lingkungan melalui ekstrakulikuler teater?
2.
Kendala
apasajakah yang di alami ekstrakulikuler teater dalam penerapan penanaman
karakter kepekaan sosial dan lingkungan?
3.
Bagaimana solusi
yang dilakukan oleh ekstrakulikuler teater dalam menghadapi masalah tersebut?
IV.
TUJUAN
PENELITIAN
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1.
Untuk
mengetahui bagaimana penerapan penanaman karakter
kepekaan sosial dan lingkungan melalui ekstrakulikuler teater?.
2.
Untuk mengetahui kendala- kendala dalam penerapan penanaman karakter kepekaan sosial dan lingkungan melalui
ekstrakulikuler teater?
3.
Untuk
mengetahui bagaimana cara menyelesaikan masalah dalam penerapan penanaman karakter kepekaan sosial
dan lingkungan melalui ekstrakulikuler teater?
V.
MANFAAT
PENELITIAN
Hasil penelitian
ini, diharapkan dapat membrikan manfaat sebagai berikut :
1.
Manfaat secara teoritis
Mengenalkan seni teater kekalangan umum karena masih sedikit orang yang
mengenal teater. Selain itu mengenalkan pada guru- guru tetntang
ekstrakulikuler teater yang mampu memberikan model penanaman karakter kepekaan
sosial dan lingkungan yang menyenangkan
2.
Manfaat secara praktis
a.
Manfaat bagi peserta
didik
1.
Menumbuhkan karakter kepekaan sosial dan lingkungan bagi siswa yang
ikut ekstrakuulikuler.
2.
Dengan menggunakan
media teater siwa dapat menumbuhkan
karakternya dengan hal yang menyenangkan.
b.
Manfaat bagi guru
Dengan
megadakan ekstrakulikuler teater guru dapat meningkatkan karakter siwa serta
memupuk bakat siswa sebagai dongeng
dapat meningkatkan profesionalisme guru dan meningkatkan keterampilan dalam
memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik.
c.
Manfaat bagi sekolah
Memberikan
sumbangan bagi sekolah sebagai masukan dan perbaikan proses belajar mengajar
serta diharapakan dapat memperbaiki kualitas pembelajaran pada khususnya dan
memperbaiki kualitas sekolah pada umumnya.
VI.
LANDASAN
TEORI
A.
Pendidikan Karakter dan soft
skill
Menurut Ali Ibrahim Akbar
(2009), pelaksanaan pendidikan di Indonesia lebih menonjolkan hard skill
(keterampilan teknis) yang lebih bersifat mengembangkan intelligence qotient
(IQ), akan tetapi kurang memperhatikan aspek soft skill yang tertuang dalam
emotional intelligence (EQ), dan spiritual intelligence (SQ). hal ini terbukti
dengan melihat kenyataan bahwa banyak sekolah bahkan perguruan tinggi lebih
bnyak menekan kan pada nilai hasil ulangan dan ujian. Bahkan banyak guru yang
memiliki persepsi bahwa peserta didik yang memiliki kompetensi yang baik adalah
mereka yang memiliki nilai hasil ulangan/ujian yang tinggi.
Seiring perkembangan zaman,
pendidikan yang berorientasi pada hard skill yaitu dengan menghasilkan lulusan
yang hanya memiliki prestasi dalam akademis, harus mulai dibenahi.Agar mencetak
peserta didik yang berkarakter serta mampu bersaing, bukan semata-mata hard
skill yang dibutuhkan melainkan lebih pada penguasaan soft skill sehingga
peserta didik mampu menjadi manusia yang beretika, bermoral, sopan santun dalam
berinteraksi dengan masyarakat.Pendidikan karakter berdasar pada pembinaan
mentalitas agar peserta didik mampu menyesuaikan diri dengan realitas
kehidupan.
Sebenarnya dalam kurikulum
pendidikan nasionalkita jelas dituntut muatan soft skill.Namun dalam prakteknya
tidak lah semudah teorinya. Hal ini disebabkan kekurang tauan guru tentang apa
itu soft skill dan bagaimana pelaksanaanya.Soft skill merupakan bagian
ketrampilan dari seseorang yang lebih bersifat pada kehalusan atau sensitifitas
perasaan seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya.Mengingat soft skill lebih
mengarah kepada ketrampilan psikologis maka dampak yang diakibatkan lebih tidak
kasat mata namun tetap bisa dirasakan. Akibat yang bisa dirasakan adalah
perilaku sopan, disiplin, keteguhan hati, kemampuan kerja sama, membantu orang
lain dan lainnya. Keabstrakan kondisi tersebut mengakibatkan soft skill tidak
mampu dievaluasi secara tekstual karena indikator-indikator soft skill lebih
mengarah pada proses eksistensi seseorang dalam kehidupannya. Pengembangan soft
skill yang dimiliki oleh setiap orang tidak sama sehingga mengakibatkan tingkatan
soft skill yang dimiliki masing-masing individu juga berbeda.
B.
Konsep Pendidikan Karakter
Pengertian karakter menurut
Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti,
perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”.Sedangkan berkarakter
adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”.Menurut
Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap
(attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan
(skills).Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau
menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan
atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku
jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek.Sebaliknya, orang yang
perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Karakter yang baik berarti individu memiliki pengetahuan tentang
potensi dirinya, yang ditandai dengan melakukan nilai-nilai positif yang ada
dalam dirinya sendiri sehingga menjadikan individu memiliki kesadaran untuk
berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai
potensi dan kesadarannya tersebut.Sedangkan karakteristik adalah realisasi
perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika,
dan perilaku).
Individu yang berkarakter baik
atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan perbuatan dan sikap yang
terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara
serta dunia internasional.Orang ini senantiasa mengoptimalkan potensi
(pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).
Pendidika karakter merupakan
suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut.Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate
use of all dimensions of school life to foster optimal character development”.
Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan)
harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi
kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata
pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ekstra
kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh
warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai
suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus
berkarakter.
Menurut David Elkind &
Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut:
“character education is the deliberate effort to help people understand, care
about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of
character we want for our children, it is clear that we want them to be able to
judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they
believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation
from within”.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa
pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu
mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta
didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru
berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai
hal terkait lainnya.
Menurut T. Ramli (2003),
pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral
dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi
manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik.Adapun kriteria
manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi
suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu,
yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya.Oleh karena itu,
hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah
pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya
bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
Pendidikan karakter berpijak
dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal
(bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the
golden rule.Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila
berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog,
beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Tuhan dan
ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun,
kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan
pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi,
cinta damai, dan cinta persatuan.
Pendapat lain mengatakan bahwa
karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan
perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun,
disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan
karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang
selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih
tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan
kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.
Dewasa ini banyak pihak
menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter
pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena
sosial yang berkembang, yakni
meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan
berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu,
gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena
itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda
diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta
didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.
Para pakar pendidikan pada
umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter
pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat
di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan
pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan
pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan
perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan
klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan
tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri
peserta didik.
Berdasarkan grand design yang
dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural
pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi
individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks
interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan
berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas
proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah
Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual
development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan
Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) yang secara
diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut.
Para pakar telah mengemukakan
berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh, et. al. (1980), di
antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan;
yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan
klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan
perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989)
mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni:
pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi
didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian
psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.
Berdasarkan pembahasan di atas
dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang
dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami
nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma
agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat
.
C.
Nilai-nilai Karakter
Berdasarkan kajian nilai-nilai
agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip
HAM, telah teridentifikasi butir-butir nilai yang dikelompokkan menjadi lima
nilai utama, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan
Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan serta kebangsaan.
Berikut adalah daftar nilai-nilai utama yang dimaksud dan diskripsi ringkasnya.
1. Nilai
karakter dalam hubungannya dengan Tuhan
a.
Religius
Pikiran, perkataan, dan
tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai
Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya.
2.
Nilai karakter dalam
hubungannya dengan diri sendiri
a.
Jujur
Perilaku yang didasarkan pada
upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam
perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain
b. Bertanggung
jawab
Sikap dan perilaku seseorang
untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia
lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan
budaya), negara dan Tuhan YME.
c. Bergaya
hidup sehat
Segala upaya untuk menerapkan
kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan
kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan.
d. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan
perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
e. Kerja
keras
Perilaku yang menunjukkan upaya
sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas
(belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.
f.
Percaya diri
g.
Sikap yakin akan kemampuan diri
sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya.
h. Berjiwa
wirausaha
Sikap dan perilaku yang mandiri
dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru,
menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur
permodalan operasinya.
i.
Berpikir logis, kritis,
kreatif, dan inovatif
Berpikir dan melakukan sesuatu
secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan
termutakhir dari apa yang telah dimiliki.
j.
Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak
mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
k. Ingin
tahu
Sikap dan tindakan yang selalu
berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang
dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
l.
Cinta ilmu
Cara berpikir, bersikap dan
berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi
terhadap pengetahuan.
3.
Nilai karakter dalam
hubungannya dengan sesama
a. Sadar
akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
Sikap tahu dan mengerti serta
melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta
tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.
b. Patuh
pada aturan-aturan social
Sikap menurut dan taat terhadap
aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum.
c. Menghargai
karya dan prestasi orang lain
Sikap dan tindakan yang
mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan
mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
d. Santun
Sifat yang halus dan baik dari
sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.
e. Demokratis
Cara berfikir, bersikap dan
bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
4.
Nilai karakter dalam
hubungannya dengan lingkungan
a. Peduli
sosial dan lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu
berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi
dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang
membutuhkan.
5.
Nilai kebangsaan, Cara
berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara
di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
a. Nasionalis
Cara berfikir, bersikap dan
berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi
terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik
bangsanya.
b. Menghargai
keberagaman
Sikap memberikan respek/ hormat
terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya,
suku, dan agama.
D. Tahapan
Pengembangan Karakter.
Pengembangan atau pembentukan
karakter diyakini perlu dan penting untuk dilakukan oleh sekolah dan
stakeholders-nya untuk menjadi pijakan dalam penyelenggaraan pendidikan
karakter di sekolah.Tujuan pendidikan karakter pada dasarnya adalah mendorong
lahirnya anak-anak yang baik (insan kamil). Tumbuh dan berkembangnya karakter
yang baik akan mendorong peserta didik tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya
untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar
dan memiliki tujuan hidup. Masyarakat juga berperan membentuk karakter anak
melalui orang tua dan lingkungannya.
Karakter dikembangkan melalui
tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan
(habit).Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja.Seseorang yang memiliki
pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuannya,
jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan
tersebut.Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri.Dengan
demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik (components of good
character) yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling atau
perasaan (penguatan emosi) tentang moral, dan moral action atau perbuatan
bermoral. Hal ini diperlukan agar peserta didik dan atau warga sekolah lain
yang terlibat dalam sistem pendidikan tersebut sekaligus dapat memahami,
merasakan, menghayati, dan mengamalkan (mengerjakan) nilai-nilai kebajikan
(moral).
Dimensi-dimensi yang termasuk
dalam moral knowing yang akan mengisi ranah kognitif adalah kesadaran moral (moral
awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values),
penentuan sudut pandang (perspective taking), logika moral (moral reasoning),
keberanian mengambil sikap (decision making), dan pengenalan diri (self
knowledge). Moral feeling merupakan penguatan aspek emosi peserta didik untuk
menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap
yang harus dirasakan oleh peserta didik, yaitu kesadaran akan jati diri
(conscience), percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain
(emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control),
kerendahan hati (humility). Moral action merupakan perbuatan atau tindakan
moral yang merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. Untuk
memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally)
maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu kompetensi (competence),
keinginan (will), dan kebiasaan (habit).
Pengembangan karakter dalam
suatu sistem pendidikan adalah keterkaitan antara komponen-komponen karakter
yang mengandung nilai-nilai perilaku, yang dapat dilakukan atau bertindak
secara bertahap dan saling berhubungan antara pengetahuan nilai-nilai perilaku
dengan sikap atau emosi yang kuat untuk melaksanakannya, baik terhadap Tuhan
YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional.
Kebiasaan berbuat baik tidak
selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar
menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). Karena mungkin saja
perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah, bukan
karena tingginya penghargaan akan nilai itu. Misalnya ketika seseorang berbuat
jujur hal itu dilakukan karena dinilai oleh orang lain, bukan karena
keinginannya yang tulus untuk mengharagi nilai kejujuran itu sendiri. Oleh
karena itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domain
affection atau emosi).Komponen ini dalam pendidikan karakter disebut dengan
“desiring the good” atau keinginan untuk berbuat kebaikan.Pendidikan karakter
yang baik dengan demikian harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the good”
(moral knowing), tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good” (moral
feeling), dan “acting the good” (moral action). Tanpa itu semua manusia akan
sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham. Dengan demikian
jelas bahwa karakter dikembangkan melalui tiga langkah, yakni mengembangkan moral knowing, kemudian moral feeling, dan moral
action. Dengan kata lain, makin lengkap komponen moral dimiliki manusia, maka
akan makin membentuk karakter yang baik atau unggul/tangguh.
Pengembangan karakter sementara
ini direalisasikan dalam pelajaran agama, pelajaran kewarganegaraan, atau
pelajaran lainnya, yang program utamanya cenderung pada pengenalan nilai-nilai
secara kognitif, dan mendalam sampai ke penghayatan nilai secara afektif.
Menurut Mochtar Buchori (2007), pengembangan karakter seharusnya membawa anak
ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, akhirnya
ke pengamalan nilai secara nyata. Untuk sampai ke praksis, ada satu peristiwa
batin yang amat penting yang harus terjadi dalam diri anak, yaitu munculnya
keinginan yang sangat kuat (tekad) untuk mengamalkan nilai.Peristiwa ini
disebut Conatio, dan langkah untuk membimbing anak membulatkan tekad ini
disebut langkah konatif.Pendidikan karakter mestinya mengikuti langkah-langkah
yang sistematis, dimulai dari pengenalan nilai secara kognitif, langkah
memahami dan menghayati nilai secara afektif, dan langkah pembentukan tekad
secara konatif.Ki Hajar Dewantoro menterjemahkannya dengan kata-kata cipta,
rasa, karsa.
E. Prinsip-Prinsip
Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter harus
didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.
Mempromosikan nilai-nilai dasar
etika sebagai basis karakter
2.
Mengidentifikasi karakter
secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku
3. Menggunakan
pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter.
4.
Menciptakan komunitas sekolah
yang memiliki kepedulian
5.
Memberi kesempatan kpeada
peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik
6.
Memiliki cakupan terhadap
kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik,
membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses
7.
Mengusahakan tumbuhnya motivasi
diri pada para peserta didik
8. Memfungsikan
seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk
pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama
9.
Adanya pembagian kepemimpinan
moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter
10. Memfungsikan
keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter
11. Mengevaluasi
karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan
manifestasi karakter posisitf dalam kehidupan peserta didik.
F.
Pendidikan Karakter Secara
Terpadu melalui Pembelajaran
Di dalam pembelajaran dikenal
tiga istilah, yaitu: pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Pendekatan
pembelajaran bersifat lebih umum, berkaitan dengan seperangkat asumsi berkenaan
dengan hakikat pembelajaran.Metode pembelajaran merupakan rencana menyeluruh
tentang penyajian materi ajar secara sistematis dan berdasarkan pendekatan yang
ditentukan.Teknik pembelajaran adalah kegiatan spesifik yang diimplementasikan
dalam kelas/lab sesuai dengan pendekatan dan metode yang dipilih.Dengan
demikian dapat ditegaskan bahwa, pendekatan lebih bersifat aksiomatis, metode
bersifat prosedural, dan teknik bersifat operasional (Abdul Majid, 2005).Namun
demikian, beberapa ahli dan praktisi seringkali tidak membedakan ketiga istilah
tersebut secara tegas. Seringkali, mereka menggunakan ketiga istilah tersebut
dengan pengertian yang sama.
Setidaknya terdapat dua pertanyaan
mendasar yang perlu diperhatikan kaitannya dengan proses pembelajaran, yaitu:
(1) sejauhmana efektivitas guru dalam melaksanakan pengajaran, dan (2)
sejauhmana siswa dapat belajar dan menguasi materi pelajaran seperti yang
diharapkan. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila guru dapat
menyampaikan keseluruhan materi pelajaran dengan baik dan siswa dapat menguasai
substansi tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Dewasa ini dikenal berbagai
istilah mengenai pembelajaran, antara lain: pembelajaran kontekstual,
pembelajaran PAKEM, pembelajaran tuntas, pembelajaran berbasis kompetensi, dan
sebagainya. Pembelajaran profesional pada dasarnya merupakan pembelajaran yang
dirancang secara sistematis sesuai dengan tujuan, karakteristik materi pelajaran
dan karakteristik siswa, dan dilaksanakan oleh Guru yang profesional dengan
dukungan fasilitas pembelajaran memadai sehingga dapat mencapai hasil belajar
secara optimal. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran profesional menggunakan
berbagai teknik atau metode dan media serta sumber belajar yang bervariasi
sesuai dengan karakteristik materi dan peserta didik.
Karakteristik pembelajaran
profesional antara lain: Efektif, Efisien, aktif, Kreatif, Inovatif,
Menyenangkan, dan Mencerdaskan. Tujuan pembelajaran dapat dicapai oleh peserta
didik sesuai yang diharapkan.Seluruh kompetensi (kognisi, afeksi, dan
psikomotor) dikuasai peserta didik.Aktivitas pembelajaran berfokus dan
didominasi Siswa. Guru secara aktif memantau, membimbing,dan mengarahkan
kegiatan belajar siswa. Pembaharuan dan penyempurnaan dalam pembelajaran
(strategi, materi, media & sumber belajar, dll) perlu terus dilakukan agar
dicapai hasil belajar yang optimal.
Pendidikan karakter secara
terpadu di dalam pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi
diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian
nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses
pembelajaran, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua
mata pelajaran. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan
peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan, juga dirancang
untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari/peduli, dan
menginternalisasi nilai-nilai dan menjadikannya perilaku.
Dalam struktur kurikulum SMA, pada dasarnya setiap mata
pelajaran memuat materi-materi yang berkaitan dengan karakter.Secara subtantif,
setidaknya terdapat dua mata pelajaran yang terkait langsung dengan
pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia, yaitu pendidikan Agama dan
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).Kedua mata pelajaran tersebut merupakan mata
pelajaran yang secara langsung (eksplisit) mengenalkan nilai-nilai, dan sampai
taraf tertentu menjadikan peserta didik peduli dan menginternalisasi
nilai-nilai. Integrasi pendidikan karakter pada mata-mata pelajaran di SMA mengarah pada internalisasi
nilai-nilai di dalam tingkah laku sehari-hari melalui proses pembelajaran dari
tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.
G.
Pendidikan Karakter Secara
Terpadu melalui Ekstrakurikuler
Kegiatan Ekstra Kurikuler
adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk
membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat,
dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh
pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di
sekolah.
Visi kegiatan ekstra kurikuler
adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya
kemandirian dan kebahagiaan peserta didik yang berguna untuk diri sendiri,
keluarga dan masyarakat.Misi ekstra kurikuler adalah (1) menyediakan sejumlah
kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan,
potensi, bakat, dan minat mereka; (2) menyelenggarakan kegiatan yang memberikan
kesempatan peserta didik mengeskpresikan diri secara bebas melalui kegiatan
mandiri dan atau kelompok.
Fungsi Kegiatan Ekstra Kurikuler meliputi:
a.
Pengembangan, yaitu fungsi
kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta
didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.
b.
Sosial, yaitu fungsi kegiatan
ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial
peserta didik.
c.
Rekreatif, yaitu fungsi
kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan
menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan.
d.
Persiapan karir, yaitu fungsi
kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.
Prinsip Kegiatan Ekstra Kurikuler
a. Individual,
yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan
minat peserta didik masing-masing.
b.
Pilihan, yaitu prinsip kegiatan
ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela
peserta didik.
c.
Keterlibatan aktif, yaitu
prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik
secara penuh.
d.
Menyenangkan, yaitu prinsip
kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang disukai dan mengembirakan peserta
didik.
e.
Etos kerja, yaitu prinsip
kegiatan ekstra kurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja
dengan baik dan berhasil.
f.
Kemanfaatan sosial, yaitu
prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan
masyarakat.
H.
Definisi
Teater
Teater berasal dari
kata Yunani, “theatereatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat
atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya pengertianteater djabarkan ssecara lebih
luas yakni
sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian,
dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk,
wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, dan
lain sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas
naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain
tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi
pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual.
Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur
teatrikal dan bermakna filosofis.
Berdasarkan paparan di atas,
kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang
teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater
tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar
maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya
merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993).
Searah dengan
teater kata “drama” telah ada sejak era Mesir
Kuno (4000-1580 SM) sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan
sedemikian eratnya. Seiring
dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama, kata drama lebih identik
sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001).
Dari penjelasan di atas dapat
disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan
“drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi,
teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas
panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater”
adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari
“teater”.
Dengan kata lain, secara khusus
teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan
sehingga tindak tanduk
pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani
“dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi
ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut
actress (Harymawan, 1993).
Meskipun istilah teater sekarang
lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga
pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini
menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra
drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul
istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het
Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII
dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti
“rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar
Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang”
(Harymawan, 1993).
Rombongan teater pada masa itu
menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama.
Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara
masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal
setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006).
Keterikatan antara teater dan drama
sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena
itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal
dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama
dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi
membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga
pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari
dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan
fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan
menyaksikan.
M1 atau menghayal, dapat dilakukan
oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang
merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu
persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu.
Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan
seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam
besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk
dipentaskan.
M2 atau menulis, adalah proses
seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon
oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah
menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi
dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Disini seorang pengarang memiliki
kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan
semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan.
M3 atau memainkan, merupakan proses
para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini
adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada
penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu: sutradara sebagai
penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata
artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta
penonton sebagai komunikan.
M4 atau menyaksikan, merupakan
proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para
pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan
berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh
penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk
memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan keinginannya terhadap tontonan tersebut.
Formula dramaturgi seperti
disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan
oleh para pelaku teater. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap
tahapan diabaikan, maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna.
Oleh karena itu, pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan
proses penciptaan karya seni teater.
I.
Sejarah Teater
1.
Teater Barat
a.
Asal Mula Teater
Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali
dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang
asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai
berikut.
·
Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara
semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun
upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga
sekarang.
·
Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya.
Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama
kelamaan diperagakan dalam bentuk teater.
·
Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian
juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan, kepahlawanan, tokohg, dan
lain sebagainya).
·
Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993), menyebutkan bahwa naskah
teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir, I
Kher-nefert, di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh
Masehi. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. Mereka sudah bisa
membuat piramida, sudah mengerti irigasi, sudah bisa membuat kalender, sudah
mengenal ilmu bedah, dan juga sudah mengenal tulis menulis.
b. Teater Yunani Klasik
Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen
dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam
bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan
berundak-undak yang disebut amphitheater (Jakob Soemardjo, 1984). Ribuan orang
mengunjungi amphitheater untuk menonton teater-teater, dan hadiah diberikan
bagi teater terbaik. Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater
pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. Ciri-ciri khusus
pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah:
·
Pertunjukan dilakukan di amphitheater.
·
Sudah menggunakan naskah lakon.
·
Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai
topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh.
·
Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang, takut,
dan kasihan serta cerita komedi yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh
terkenal pada waktu itu.
·
Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi),
penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).
c. Teater Romawi Klasik
Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian
beralih dari Yunani ke Roma, begitu juga Teater. Namun mutu teater Romawi tak
lebih baik daripada teater Yunani. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota
Roma pada tahun 240 SM (Brockett, 1964).
Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus,
seniman Yunani. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater Yunani.
Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani.
Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan
dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri
sebagi berikut.
·
Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan.
·
Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita
tetapi juga menjadi ilustrasi cerita.
·
Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah.
·
Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan
anak-anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain
sebagainya.
d. Teater Abad Pertengahan
Dalam tahun 1400-an dan 1500-an, banyak kota di Eropa
mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. Drama-drama
dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta,
yang disebut pageant, dan ditarik keliling kota. Bahkan kini pertunjukan jalan
dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan
berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di
bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. Peralatan ini digunakan untuk efek
tipuan, seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Para pemain
pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab, lalu berjalan lagi.
Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya, menggantikannya.
Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan
adegan yag menunjukan keahlian mereka. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama
pageant religius di Eropa. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam
bahasa sehari-hari, bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi
gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono, 2002). Ciri-ciri teater abad Pertengahan
adalah sebagai berikut:
·
Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga
dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama.
·
Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling
menyusuri jalanan.
·
Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan.
·
Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran.
·
Drama tidak memiliki nama pengarang.
e. Teater Abad 20
Teater telah berubah selama berabad-abad.
Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru.
Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater
melainkan juga untuk menikmati musik, hiburan, pendidikan, dan mempelajari
hal-hal baru. Rancangan-rancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena,
atau yang disebut saat ini, Teater di Tengah-Tengah Gedung. Dewasa ini,
beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda dalam
pertunjukanpertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik, dekorasi,
tata cahaya, dan efek elektronik. Gaya-gaya pertunjukan realistis dan
eksperimental ditemukan dalam teater Amerika saat ini.
Seiring dengan perkembangan waktu, kualitas
pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan
membosankan. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk
ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. Wilayah jelajah artistik
dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni
teater.
Dengan semangat melawan pesona realisme, para seniman
mencari bentuk pertunjukannya sendiri. Pada awal abad 20 inilah istilah teater
eksperimental berkembang. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang
pengarang, sutradara, aktor ataupun penata artistik. Tidak jarang usaha mereka
berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme, surealisme,
epik, dan absurd. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi
pertama. Lepas dari hal itu, usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan
oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut
mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan.
2. Teater Indonesia
a. Teater Tradisional
Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional
di Indonesia (2006) mengatakan, sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai
sejak sebelum Zaman Hindu. Pada zaman itu, ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur
teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. Teater
tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara
adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Pada saat itu, yang
disebut “teater”, sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater, dan belum
merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Setelah melepaskan diri dari
kaitan upacara, unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan
yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya.
Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di
Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini
disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda,
tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana
teater tradisional lahir.
Macammacam teater tradisional Indonesia adalah :wayang
kulit, wayang wong, ludruk , lenong, randai, drama gong, arja, ubrug, ketoprak,
dan sebagainya.
b. Teater Modern
·
Teater Transisi
Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater
pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh
budaya lain. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional
dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat, dinamakan
teater bangsawan. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai
ditulis, meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis
besar cerita per adegan). Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan
dekorasi. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. Pada periode
transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Selain
pengaruh dari teater bangsawan, teater tradisional berkenalan juga dengan
teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun
1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali
berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian
Jakarta).
Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater
non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya
pada tahun 1891, yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya
dan teater Barat (Eropa), yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah
drama/lakon. Dilihat dari segi sastra, mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya
lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.Wiggers yang berjudul
Lelakon Raden Beij Soerio Retno, pada tahun 1901. Kemudian disusul oleh Lauw
Giok Lan lewat Karina Adinda, Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913), dan
lain-lainnya, yang menggunakan bahasa Melayu Rendah.
Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok
sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang
didirikan Willy Klimanoff alias A. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Kemudian
lahirlah kelompok sandiwara lain, seperti Opera Stambul, Komidi Bangsawan,
Indra Bangsawan, Sandiwara Orion, Opera Abdoel Moeloek, Sandiwara Tjahaja
Timoer, dan lain sebagainya. Pada masa teater transisi belum muncul istilah
teater. Yang ada adalah sandiwara. Karenanya rombongan teater pada masa itu
menggunakan nama sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama.
Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara
masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah
Zaman Kemerdekaan.
·
Teater Indonesia tahun 1920-an
Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru
kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi
cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. Naskah-naskah drama tersebut
belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan
sulit untuk dipentaskan. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan
ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda
yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. Bentuk sastra
drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model
dialog antar tokoh dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang
sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). Lakon Bebasari
merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. Lakon ini
menceritakan perjuangan tokoh utama Bujangga, yang membebaskan puteri Bebasari
dari niat jahat Rahwana. Penulis lakon lainnya, yaitu Sanusi Pane menulis
Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken
Arok dan Ken Dedes (1934). Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di
Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. Nur Sutan
Iskandar menyadur karangan Molliere, dengan judul Si Bachil. Imam Supardi
menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. Dr. Satiman Wirjosandjojo
menulis drama berjudul Nyai Blorong. Mr. Singgih menulis drama berjudul Hantu.
Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan, persoalan, dan harapan
serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. Penulis-penulis ini
adalah cendekiawan Indonesia, menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan
berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Bahkan Presiden pertama Indonesia, Ir
Soekarno, pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di
pengasingan). Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain, Rainbow, Krukut
Bikutbi, dan Dr. Setan.
·
Teater Indonesia tahun 1940-an
Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu
penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter
Jepang. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan
pemerintahan totaliter Jepang. Namun demikian, dalam situasi yang sulit dan
gawat serupa itu, dua orang tokoh, yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat
berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan
menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai
upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional
Indonesia. Maka pada tanggal 6 oktober 1942, di rumah Bung Karno dibentuklah
Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut, Sanusi Pane
(Ketua), Mr. Sumanang (Sekretaris), dan sebagai anggota antara lain, Armijn
Pane, Sutan Takdir Alisjabana, dan Kama Jaya. Badan Pusat Kesenian Indonesia
bermaksud menciptakan kesenian Indonesia baru, di antaranya dengan jalan
memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru.
Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat
Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia,
ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang,
yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’,
yang dipimpin oleh orang Jepang S. Oya. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang
ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka
membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia, Ratu Asia, Pendekar Asia, yang
kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. Dalam masa pendudukan Jepang
kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan
sandiwara profesional. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang
berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat.
Rombongan sandiwara keliling komersial, seperti misalnya Bintang Surabaya, Dewi
Mada, Mis Ribut, Mis Tjitjih, Tjahaya Asia, Warna Sari, Mata Hari, Pancawarna,
dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa
Indonesia, Jawa, maupun Sunda. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil
dengan aktor dan aktris kenamaan, antara lain Astaman, Tan Ceng Bok (Si Item),
Ali Yugo, Fifi Young, Dahlia, dan sebagainya. Pengarang Nyoo Cheong Seng, yang
dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara
Bintang Surabaya menulis lakon antara lain, Kris Bali, Bengawan Solo, Air Mata
Ibu (sudah difilmkan), Sija, R.A Murdiati, dan Merah Delima. Rombongan
Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan
cara lama seperti pada masa Dardanella, Komedi Bangsawan, dan Bolero, yaitu di
antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian, nyanyian, dan lawak.
Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show, dengan
peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik .
Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi
Mada, dengan bintang-bintang eks Bolero, yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry
Kok, yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih
mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah
penari terkenal sejak masa rombongan sandiwara Bolero. Cerita yang dipentaskan
antara lain, Ida Ayu, Ni Parini, dan Rencong Aceh.
Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. Keistimewaan rombongan sandiwara Warna Sari adalah penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia, seorang keturunan Filipina, yang terkenal sebagi Raja Drum. Garsia menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan – ke kiri sehingga menarik minat penonton. ceritacerita yang dipentaskan antara lain, Panggilan Tanah Air, Bulan Punama, Kusumahadi, Kembang Kaca, Dewi Rani, dan lain sebagainya.
Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. Keistimewaan rombongan sandiwara Warna Sari adalah penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia, seorang keturunan Filipina, yang terkenal sebagi Raja Drum. Garsia menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan – ke kiri sehingga menarik minat penonton. ceritacerita yang dipentaskan antara lain, Panggilan Tanah Air, Bulan Punama, Kusumahadi, Kembang Kaca, Dewi Rani, dan lain sebagainya.
Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan
sandiwara Sunda Mis Tjitjih, yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat
jelata. Dalam perjalanannya, rombongan sandiwara ini terpaksa berlindung di
bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama menjadi rombongan sandiwara
Tjahaya Asia yang mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda
Jepang. Anjar Asmara, Ratna Asmara, dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943,
mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. Hanya kalangan
terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa
tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara
dari awal hingga akhir. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh
penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak
satu dengan babak lain sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara
tersebut mengikuti selera penonton. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara
antara lain, Musim Bunga di Slabintana, Nusa Penida, Pancaroba, Si Bongkok,
Guna-guna, dan Jauh di Mata. Kama Jaya menulis lakon antara lain, Solo di Waktu
Malam, Kupu-kupu, Sang Pek Engtay, Potong Padi. Dari semua lakon tersebut ada
yang sudah di filmkan yaitu, Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida.
Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian
Sendenbu. Jepang menugaskan Dr. Huyung (Hei Natsu Eitaroo), ahli seni drama
atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara
Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Sendenbu
menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara
karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang, Kotot Sukardi menulis lakon, Amat
Heiho, Pecah Sebagai Ratna, Bende Mataram, Benteng Ngawi. Hei Natsu Eitaroo
menulis Hantu, lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti
dengan Jinak-jinak Merpati oleh Armijn Pane. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh
Natsusaki Tani. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis
lengkap berikut dialognya. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan
dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. Sensor Sendenbu malah menjadi titik
awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara.
Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan
sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti, yaitu Penggemar Maya
(1944) pimpinan Usmar Ismail, dan D. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto,
Rosihan Anwar, dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda, nasionalis
dan para profesional (dokter, apoteker, dan lain-lain). Kelompok ini berprinsip
menegakkan nasionalisme, humanisme dan agama. Pada saat inilah pengembangan ke
arah pencapaian teater nasional dilakukan. Teater tidak hanya sebagai hiburan
tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan
cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni
serius dan ilmu pengetahuan. Bahwa teori teater perlu dipelajari secara serius.
Kelak, Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional
Indonesia di Jakarta.
·
Teater Indonesia Tahun 1950-an
Setelah tokohg kemerdekaan, peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan
perjuangan dalam tokohg kemerdekaan, juga sebaliknya, mereka merenungkan
peristiwa tokohg kemerdekaan, kekecewaan, penderitaan, keberanian dan nilai
kemanusiaan, pengkhianatan, kemunafikan, kepahlawanan dan tindakan pengecut,
keiklasan sendiri dan pengorbanan, dan lain-lain. Peristiwa tokohg secara khas
dilukiskan dalam lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa, 1955), Kapten Syaf (Aoh
Kartahadimaja, 1951), Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang, 1954), Titik-titik
Hitam (Nasyah Jamin, 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin, 1959).
Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg, seperti
korupsi, oportunisme politis, erosi ideologi, kemiskinan, Islam dan Komunisme,
melalaikan penderitaan korban tokohg, dan lain-lain. Tema itu terungkap dalam
lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952), Sayang Ada Orang Lain (1953) karya
Utuy Tatang Sontani, bahkan lakon adaptasi, Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat
Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya
Satu Kali (1956), berdasarkan Justice karya John Galsworthy. Utuy Tatang
Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama
realis di Indonesia dengan lakon-lakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat
alienasi sebagai ciri kehidupan moderen. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya
terkenal di Indonesia, melainkan sampai ke Malaysia.
Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi
yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan
Anton Chekhov. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional
ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada
tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. ATNI menggalakkan dan memapankan
realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat, seperti
karyakarya Moliere, Gogol, dan Chekov. Sedangkan metode pementasan dan
pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian.
Menurut Brandon (1997), ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di
Asia Tenggara. Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara
antara lain, Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Tatiek Malyati, Pramana
Padmadarmaya, Galib Husein, dan Kasim Achmad. Di Yogyakarta tahun 1955
Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia
(ASDRAFI). Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta.
·
Teater Indonesia Tahun 1970-an
Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan
eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan, tari
topeng Cirebon, longser, dan dagelan dengan teater Barat. Pada akhir 1950-an
JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme
konvensional. Karya penyutradaraanya, yaitu Awal dan Mira (Utuy T. Sontani) dan
Paman Vanya (Anton Chekhov). Bermain dengan akting realistis dalam lakon The
Glass Menagerie (Tennesse William, 1962), The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz
). Pada tahun 1960, Jim Lim menyutradari Bung Besar, (Misbach Yusa Biran)
dengan gaya longser, teater rakyat Sunda.
Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya
penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM., 1961).
Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964).
Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon
Caligula (Albert Camus, 1945), Badak-badak (Ionesco, 1960), dan Biduanita Botak
(Ionesco, 1950). Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris.
Suyatna Anirun, salah satu aktor dan juga teman Jim Lim, melanjutkan apa yang
sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan
teater etnis.
Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme
konvensional terjadi pada tahun 1967, Ketika Rendra kembali ke Indonesia.
Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek
improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam
drama-drama realisme. Akan tetapi, pertunjukan bermula dari improvisasi dan
eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang
diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin).
Pertunjukannya misalnya, Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967,1968).
Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin, gubernur
DKI jakarta tahun1970, menjadi pemicu meningkatnya aktivitas, dan kreativitas
berteater tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di kota besar seperti Bandung,
Surabaya, Yogyakarta, Medan, Padang, Palembang, Ujung Pandang, dan lain-lain.
Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis
oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara, menyelenggarakan festival
pertunjukan secara teratur, juga lokakarya dan diskusi teater secara umum atau
khusus. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht, Artaud dan
Grotowsky juga diperbincangkan.
Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik
(Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki
Rahmat, Akhudiat, Luthfi Rahman, Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya, Teater
Lektur, Teater Melarat Malang). Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam.
Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. Di Padang ada
Wisran Hadi dengan teater Padang. Di Makasar, Rahman Arge dan Aspar Patturusi
mendirikan Teater Makasar. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A
Nasution dan Burhan Piliang.
Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah, Teguh Karya
(Teater Populer), D. Djajakusuma, Wahyu Sihombing, Pramana Padmodarmaya (Teater
Lembaga), Ikranegara (Teater Saja), Danarto (Teater Tanpa Penonton), Adi Kurdi
(Teater Hitam Putih). Arifin C. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang
kaya irama dari blocking, musik,
vokal, tata cahaya, kostum dan verbalisme naskah. Putu Wijaya (teater Mandiri)
dengan ciri penampilan menggunakan kostum yang meriah dan vokal keras.
Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. Fokus tidak terletak pada
aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih
dikenal sebagai teater teror. N. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang
mengutamakan tata artistik glamor.
·
Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an
Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui
pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Ditiadakannya
kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Dalam latar situasi
seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk
festival teater. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya
disebut Festival Teater Remaja). Beberapa jenis festival di Yogyakarta, di
antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen
Penerangan Republik Indonesia (1983). Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota
yang digagas oleh Luthfi Rahman, Kholiq Dimyati dan Mukid F.
Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di
Indonesia. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti, Teater Jeprik, Teater Tikar,
Teater Shima, dan Teater Gandrik. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater
yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun
berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Lakon yang
dipentaskan antra lain, Pasar Seret, Meh, Kontrang- kantring, Dhemit, Upeti,
Sinden, dan Orde Tabung.
Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan
latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Salah satu
lakonnya berjudul Tuk. Di samping Gapit, di Solo ada juga Teater Gidag-gidig.
Di Bandung muncul Teater Bel, Teater Republik, dan Teater Payung Hitam. Di
Tegal lahir teater RSPD. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan Teater
Pavita, Teater Ragil, Teater Api, Teater Rajawali, Teater Institut, Teater
Tobong, Teater Nol, Sanggar Suroboyo. Di Semarang muncul Teater Lingkar. Di
Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot.
Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti, Teater Sae
yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan
cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Ada pula Teater
Luka, Teater Kubur, Teater Bandar Jakarta, Teater Kanvas, Teater Tetas selain
teater Studio Oncor, dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival
(Afrizal Malna,1999).
Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik.
Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik.
·
Teater Kontemporer Indonesia
Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Sejak munculnya
eksponen 70 dalam seni teater, kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan
dengan gaya khas masing-masing seniman. Gerakan ini terus berkembang sejak
tahun 80- an sampai saat ini. Konsep dan gaya baru saling bermunculan. Meksipun
seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus
juga tumbuh. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater
dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang
lain. Dengan demikian, wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan
kemungkinan bentuk garap semakin banyak
J.
Unsur- Unsur Dalam
Teater
Teater memiliki
sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan, yaitu pertama,
lakon atau cerita yang ditampilkan, bisa berwujud sebuah naskah atau skenario
tertulis, skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). Kedua, pemain adalah
orang yang membawakan lakon tersebut. Ketiga, sutradara sebagai penata
pertunjukan di panggung. Keempat, penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan
sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam
suatu lakon dan menikmatinya.
Lakon ditulis oleh seorang penulis
naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat, apa yang dialami, dan apa yang dibaca
atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. Penulis kemudian menyusun rangkaian
kejadian, semakin lama semakin rumit, sehingga pada puncaknya masuk ke dalam
penyelesaian cerita. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau
peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu
kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis, tetapi semakin
lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks.
Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting, yaitu pertama, konflik. Kedua, tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan, konlfik hingga penyelesaian. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. Tidaklah menarik sebuah cerita disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik.
Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting, yaitu pertama, konflik. Kedua, tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan, konlfik hingga penyelesaian. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. Tidaklah menarik sebuah cerita disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik.
Tidak ada acuan yang pasti terhadap
konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. Terkadang
konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat
penonton takjub. Sementara, konflik yang berat, berliku, dan bercabang-cabang
jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon
menjadi lamban. Jadi, kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon
semakin menarik adalah anggapan yang salah, karena peristiwa yang mengarahkan
cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. Tokoh adalah orang yang
menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. Jadi
dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon,
yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian.
1.
Tema
Tema ada yang menyebutnya sebagai premis, root idea,
thought, aim, central idea, goal, driving force dan sebagainya. Seorang penulis
terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat.
Akan tetapi, tema harus dirumuskan dengan jelas, karena tema merupakan sasaran
yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. Ketika tema tidak terumuskan
dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak
disampaikan.
Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon
bukan hanya sekedar mencipta, tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang
persoalan kehidupan manusia. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun
batiniah. Keunggulan dari seorang pengarang ialah, dia mempunyai kepekaan terhadap
lingkungan sekelilingnya, dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala
persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. Pengarang adalah
seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang
masalah-masalah politik dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu
zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren, 1989). Ide-ide, pesan atau pandangan
terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis
naskah lakonnya.
Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh
pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf, 1994). Tema bisa juga
disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan, ini mungkin bisa diuraikan
sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik, ide utama atau
pesan, mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen, 1983). Adhy Asmara (1983)
menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan
ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. Dengan demikian bisa ditarik
kesimpulan bahwa tema adalah ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam
naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.
Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas
dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. Tema sebuah lakon bisa
tunggal dan bisa juga lebih dari satu. Tema dapat diketahui dengan dua cara :
·
Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan.
·
Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya.
Dengan
berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. Misalnya,
lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Dialog
yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon.
Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. Dari dialog tersebut dapat
diketahui perihal atau soalan yang dibahas. Dengan merangkai setiap persoalan
melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. Detil tema
selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita. Semua
analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta
hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. Jika hanya membaca cerita secara
keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari
analisis yang dilakukan belum tentu benar. Kadangkadang, dialog kecil memiliki
arti yang luas dan sanggup mempengaruhi tema cerita. Misalnya, dalam kalimat
dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia
disegani oleh anak-anaknya, tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga
dibenci.
2. Plot
Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan
teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan pola
pengadeganan dalam permainan teater, dan merupakan dasar struktur irama
keseluruhan permainan. Plot dapat dibagi berdasarkan babak dan adegan atau
berlangsung terus tanpa pembagian. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam
lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Jadi plot merupakan
susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung.
Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu.
Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu.
Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal
(waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Plot atau alur adalah rangkaian
peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan
cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks
penyelesaian. Menurut J.A. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977),
plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari
peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk
peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin
tahu. Plot atau alur menurut Hubert C. Heffner, Samuel Selden dan Hunton D.
Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963), ialah seluruh persiapan dalam
permainan. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan,
pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara
mengatur lima bagian yang lain, yaitu karakter, tema, diksi, musik, dan
spektakel. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah
teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari
kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama
atau teater.
Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional
biasanya sudah jelas yaitu, bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir.
Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal
lakon, misalnya tempat lakon tersebut terjadi, waktu kejadiannya,
pelaku-pelakunya, dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Pada bagian tengah
biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah
pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. Bagian
akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah
lakon telah mencapai klimaks besar.
Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe
sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut.
·
Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materi-materi yang
relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau
konflik yang terjadi dalam diri karakter-karakter yang ada di lakon.
·
Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara
karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter.
·
Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakter-karakter
atau satu karakter untuk mengatasi konflik.
·
Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa
tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat, atau argumentative
atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain.
·
Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. Bagian ini
merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas
segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi.
a.
Jenis Plot
Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon
fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton, lihat, atau
baca tersebut. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan
peristiwa-peristiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. Jalinan
peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon
mempermainkan emosi kita. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu
simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu)
I.
Simple Plot
Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon
yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai
akhir. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. Plot
linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus
sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir
bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu
dalam satu titik. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan
sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini, terdiri dari alur menanjak
atau rising plot, alur menurun atau falling plot, alur maju atau progressive
plot, alur mundur atau regressive plot, alur lurus atau straight plot, dan alur
melingkar atau circular plot.
Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan
emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi
lakon yang paling tinggi. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur
lakon. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari
tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah.
Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot. Alur maju
atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa
lakon sampai menuju inti peristiwa lakon.
Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari
awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. Alur mundur atau regresive plot adalah
alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana sampai
terjadi peristiwa tersebut. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot.
Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno
yang dimainkan oleh Teater Koma. Alur lurus atau straight plot hampir sama
dengan alur maju.
II. Multi Plot
Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama
dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. Multi plot ini terdiri dari
dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau
concentric plot. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang
terdiri dari bagian perbagian secara mandiri, di mana setiap episode memiliki
alur cerita sendiri. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada
hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita, tema, tokoh. Tetapi pada akhir
cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu. Contoh
lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya
W.S. Rendra, Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain.
Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki
beberapa plot yang berdiri sendiri, dimana pada akhir cerita semua tokoh yang
terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan
cerita. Plot-plot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus
diselesaikan.
III. Anatomi Plot
Menurut Rikrik El Saptaria (2006), plot atau alur
cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan
dengan hukum sebab akibat. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk
mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas. Pengungkapan ini lewat jalinan
peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu
sendiri. Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun
plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut.
·
Gimmick, bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat
penikmat
·
Fore Shadowing, pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan
atau membayangkan keadaan yang akan datang.
·
Dramatic Irony, aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu, dan
tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. Dalam lakon banyak dijumpai
tokoh-tokoh ini, dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut.
·
Flashback, kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat
ini. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada
peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon.
Kilas balik biasanya diceritakan melalui dialog tokoh, tetapi kilas balik pada
film biasanya berupa nukilannukilan gambar.
·
Suspen, berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan
yang mengundang pertanyaan dan keingintahuan penonton. Suspen akan menumbuhkan
dan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. Suspen ini
biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir
cerita, supaya penonton bertanya-tanya apa akibat yang ditimbulkan dari
peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. Dengan menimbulkan
pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai.
Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang
ada dalam naskah lakon. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam
menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan
baik. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu
bagus, karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. Kalau cerita itu bisa
ditebak oleh penonton maka perhatian penonton akan berkurang dan menganggap
pertunjukan tersebut tidak menyuguhkan sesuatu untuk dipikirkan.
·
Surprise, suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya
dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang
tidak pasti. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut, pada akhirnya mengarah
ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya.
·
Gestus, aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu
persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. Dalam sebuah
lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu
rasa simpati penonton kepada korbannya.
3. Setting
Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon
tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas, karena memang bukan
persoalan scenery yang hendak dibahas. Pertanyaan untuk setting atau latar
cerita adalah kapan dan dimana persitiwa terjadi. Pertanyaan tidak serta merta
dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil untuk mengetahui secara pasti
waktu dan tempat kejadiannya.
Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk
menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam
ruang? Apakah terjadi pada waktu malam, pagi hari, atau sore hari? Jika terjadi
dalam ruang lalu di mana letak ruang itu, di dalam gedung atau di dalam rumah?
Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal, bulan, dan tahun berapa? Apakah waktu
kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain, atau
sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini
akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote, 1997).
4. Latar Tempat
Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar
peristiwa lakon itu terjadi. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang
menjadi hasil rekaan penulis lakon. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon
adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. Seperti diketahui
bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra,
tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan. Sebagai bahan bacaan sastra,
interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang
diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. Sedangkan
sebagai bahan dasar pertunjukan, tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan
atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton.
Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu
gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. Analisis ini juga
sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. Gambaran
tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon, tetapi
kadang tidak diberikan oleh penulis lakon. Analisis latar tempat dapat
dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam
satu adegan, babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut.
a. Latar Waktu
Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang
peristiwa,`adegan, dan babak itu terjadi. Latar waktu terkadang sudah
diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon, tetapi banyak
latar`waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. Tugas seorang sutradara
dan`pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar
waktu dalam lakon tersebut. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada
maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut. Misalnya, penata
artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar
waktu.
Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang
sutradara maupun oleh pemeran. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh
sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas, sedangkan yang
dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting.
Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang
sebenarnya (siang, malam, pagi, sore), waktu yang menunjukkan sebuah musim
(musim hujan, musim kemarau, musim dingin dan lain-lain), dan waktu yang
menunjukkan suatu zaman atau abad (Zaman Klasik, Zaman Romantik, zaman tokohg
dan lain-lain).
Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati
dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang
berlangsung.
b. Latar Peristiwa
Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan
itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. Latar peristiwa ini
bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon.
Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa
yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. Misalnya,
lakon Raja Lear, mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana
yang melanda Inggris pada waktu itu, yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena
lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil. Lakon-lakon dengan latar peristiwa
yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai
tahun 1970. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg
Revolusi di Indonesia. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa
yang mendahului adegan atau lakon tersebut, atau yang mengakibatkan adegan atau
lakon itu terjadi. Misalnya, adegan awal pada lakon.
5. Karakterisasi
Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang
lain. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh
penonton. Jika proses identifikasi ini berhasil, maka perasaan penonton akan
merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. Suatu misal
kita mengidentifisasi satu tokoh, berbarti kita telah mengadopsi
pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita.
Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang
sangat penting. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang
paling utama dalam lakon. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita, tanpa
perwatakan tidak bakal ada plot. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan
pergeseran, tabrakan kepentingan, konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A.
Adjib Hamzah, 1985).
6. Jenis-jenis Tokoh
Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon, sebab dengan adanya tokoh
maka timbul konflik. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui
ucapan dan tingkah laku tokoh. Dalam teater, tokoh dapat dibagi-bagi sesuai
dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. Motivasi-motivasi
tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. Tokoh-tokoh tersebut
adalah sebagai berikut.
·
Protagonis
Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. Persoalan ini bisa dari tokoh lain, bisa dari alam, bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri.
Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. Persoalan ini bisa dari tokoh lain, bisa dari alam, bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri.
·
Antagonis
Antagonis adalah tokoh lawan, karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian, dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan, keinginan, dan cita-cita Raja Lear.
Antagonis adalah tokoh lawan, karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian, dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan, keinginan, dan cita-cita Raja Lear.
·
Deutragonis
Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. Contoh, tokoh Tumenggung Kent, Edgar, Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare.
Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. Contoh, tokoh Tumenggung Kent, Edgar, Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare.
·
Tritagonis
Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. Contoh, tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. Dia adalah pengawal dari Cordelia.
Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. Contoh, tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. Dia adalah pengawal dari Cordelia.
·
Foil
Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. Contoh, tokoh Perwira, Oswald, Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare.
Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. Contoh, tokoh Perwira, Oswald, Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare.
·
Utility
Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. Contoh:tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare.
Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. Contoh:tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare.
7. Jenis Karakter
Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan, sedangkan penokohan adalah
proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. Penokohan ini
biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan.
Menurut Rikrik El Saptaria (2006), jenis karakter dalam teater ada empat macam,
yaitu flat character, round charakter, teatrikal, dan karikatural.
·
Flat Character (perwatakan dasar)
Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh
penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. Karakter tokoh
dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan
perkembangan lingkungan. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya
sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya, dan ketika sudah dewasa maka
pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. Jadi
perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia, yang merupakan
akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya
dan terus berkembang. Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri
yaitu dunia fiktif, sehingga ketika mencipta sebuah karakter dia bebas
menentukan suatu perkembangan karakter. Flat character ini ditulis dengan tidak
mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon.
Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau
karakter tokoh pembantu, tetapi diperlukan dalam sebuah lakon.
·
Round Character (perwatakan bulat)
Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna, karakteristiknya
kaya dengan pesan-pesan dramatik. Round karakter adalah karakter tokoh dalam
lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun
status sosialnya. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan
pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan inilah yang menjadikan
karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. Karakter ini
biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh
antagonis.
·
Teatrikal
Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat
simbolis. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis,
tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. Karakter
ini hanya simbol dari psikologi masyarakat, suasana, keadaan jaman dan
lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. Misalnya
karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakon-lakonnya yang bergaya
post-realistic, seperti tokoh A, D, C, Si Gembrot, Si Tua, Kawan, Pemimpin
(lakon LOS) dan lain-lain.
·
Karikatural
Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar, satiris, dan cenderung
menyindir.. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai
penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan, antara ketegangan dengan keriangan
suasana. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh
karakter tokoh, bisa juga dengan tingkah laku, bahkan perpaduan antara ucapan
dengan tingkah laku.
K. Seni Bermain Peran
Aktor
merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. Karena
itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis.
Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya.
a. Latihan
Olah Tubuh
Latihan olah tubuh
melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. Olah tubuh dilakukan
dalam tiga tahap, yaitu latihan pemanasan, latihan inti, dan latihan
pendinginan. Latihan pemanasan (warm-up), yaitu serial latihan gerakan tubuh
untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. Latihan
inti, yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. Latihan
pendinginan atau peredaan (warm-down), yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk
mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti.
b. Persiapan
Sebelum melakukan
latihan harus memperhatikan denyut nadi. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan
fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. Cara untuk menghitung
denyut nadi, yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut
nadi yang ada di pergelangan tangan dalam. Penghitungan denyut nadi yang ada
dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang
tepat. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan, yaitu
dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan
ibu jari atau jari jempol.
Selama menghitung
denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di
dalam ruangan). Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan
sepuluh, atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya
dikalikan enam.
Latihanlatihan olah
tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut.
·
Pemanasan
·
Latihan ketahanan
·
Latihan Kelenturan
·
Latihan ketangkasan
·
Latihan pendinginan
·
Latihan relaksasi
c.
Olah Suara
Suara adalah unsur
penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu
yang berhubungan dengan pendengaran. Dalam kenyataannya, suara dan bunyi itu
sama, yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang
telinga. Akan tetapi, dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut
dibedakan. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata, sedangkan
bunyi merupakan produk benda-benda. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan
mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi. Dalam
kegiatan teater, suara mempunyai tokohan penting, karena digunakan sebagai
bahan komunikasi yang berwujud dialog. Dialog merupakan salah satu daya tarik
dalam membina konflik-konflik dramatik. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi
sifat teater yang khas. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media
untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. Unsur dasar bahasa lisan adalah
suara. Prosesnya, suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa
serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut
gramatika atau paramasastra.
Pemilihan kata-kata
memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. Selanjutnya,
suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya,
tinggi rendahnya, dan cepat lambatnya sesuai dengan situasi dan kondisi emosi.
Itulah yang disebut intonasi. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan
oleh seseorang yang akan mempelajari teater.
Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. Misalnya, kalimat, “Yah, memang, kamu sekarang sudah hebat..... ”. Maka, nada suara yang terlontarkan, menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan, “kamu belum bisa apa-apa”. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. Misalnya, dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya, sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext.
Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. Misalnya, kalimat, “Yah, memang, kamu sekarang sudah hebat..... ”. Maka, nada suara yang terlontarkan, menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan, “kamu belum bisa apa-apa”. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. Misalnya, dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya, sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext.
Seorang pemeran dalam
pementasan teater menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal
yang berupa dialog. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri, dalam arti tidak
dibarengi dengan bahasa verbal. Akan tetapi, bisa juga bahasa tubuh sebagai
penguat bahasa verbal.
Dialog yang diucapkan
oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan
naskah drama atau teks lakon. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak
terdapat nilai-nilai yang bermakna. Jika lontaran dialog tidak sesuai
sebagaimana mestinya, maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan
kepada penonton. Hal ini merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran.
Ada beberapa hal yang
perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan, yaitu sebagai
berikut.
·
Ucapan yang dilontarkan
oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton.
·
Memberi arti khusus
pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara.
·
Memuat informasi
tentang sifat dan perasaan tokoh, misalnya: umur. kedudukan sosial, kekuatan,
kegembiraan, putus asa, marah, dan sebagainya.
·
Mengendalikan perasaan
penonton seperti yang dilakukan oleh musik.
·
Melengkapi variasi.
Ketika
pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiran-pikiran penulis. Jika
pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja, maka dia
mencabut makna yang ada dalam kata-kata. Ekspresi yang disampaikan melalui nada
suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. Proses
pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan
kepada penonton.
Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut.
Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut.
·
Persiapan
·
Pemanasan
·
Senam Wajah
·
Senam Lidah
·
Senam Rahang Bawah
·
Latihan Tenggorokan
·
Berbisik
·
Bergumam
·
Bersenandung
·
Latihan Pernafasan
·
Latihan Kejelasa Diksi
·
Intonasi
·
Jeda
·
Tempo
·
Nada
·
Wicara
·
Ditutup dengan
relaksasi
d. Olah Rasa
Pemeran teater
membutuhkan kepekaan rasa. Dalam menghayatai karakter tokoh, semua emosi tokoh
yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. Oleh karena itu, latihan-latihan yang
mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. Terlebih dalam konteks aksi dan
reaksi. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang
ditokohkan saja, tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh
lain.
Banyak pemeran
yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya
melakukan aksi. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi. Seorang pemeran
yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Tugas
yang lain adalah memberikan reaksi. Dengan demikian, latihan olah rasa tidak
hanya berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri, tetapi
juga perasaan terhadap karakter lawan main. Latihan olah rasa dimulai dari
konsentrasi, mempelajari gesture, dan imajinasi.
e.
Konsentrasi
Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau
perhatian. Makin menarik pusat perhatian, makin tinggi kesanggupan memusatkan
perhatian. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau
karakter yang akan dimainkan.
Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran, cenderung
dapat merusak proses pemeranan. Maka, konsentrasi menjadi sesuatu hal yang
penting untuk pemeran. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai
kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. Ada korelasi yang sangat
dekat antara pikiran dan tubuh. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya
setiap saat. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan
mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Dengan konsentrasi pemeran akan
dapat mengubah dirinya menjadi orang lain, yaitu tokoh yang dimainkan. Dunia teater
adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. Dunia tidak nyata yang diciptakan
seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. Dunia ini harus
diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta
menyakinkan penonton. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya
bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. Misalnya seorang pemeran
melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas)
maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat
benar-benar menjijikkan. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah
maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton.
f.
Gesture
Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna.
Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh.
Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang
diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa
verbal.
Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan
keluar mendahului bahasa verbal. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam
proses komunikasi. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi
kekuatan komunikasi, sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan
menguatkan proses komunikasi. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh, baik
bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. Pemakaian
gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau
bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. Akan tetapi, gesture
tidak dapat menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. Sedang beberapa orang
menggunakan gesture sebagai tambahan dalam kata-kata ketika melakukan proses
komunikasi. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang
tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. Selain itu, dengan
mempelajari bahasa tubuh, akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda
kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. Bahasa tubuh semacam
respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. Sebagai
seorang pemeran, gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat
komunikasi dengan bahasa verbal.
Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. Misalnya, orang India,
mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. Hal ini
berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan
jempol membentuk lingkaran, bagi orangtokohcis artinya nol, bagi orang Yunani
berarti penghinaan, tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. Jadi bahasa tubuh
harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal.
Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture
dengan tangan, gesture dengan badan, gesture dengan kepala dan wajah, dan
gesture dengan kaki. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa
tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. Bahasa tubuh yang
tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya.
Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau
sikap tubuh seseorang. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh
yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. Sedangkan bahasa tubuh
dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana
meletakkan kaki.
g.
Imajinasi
Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam
pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. Belajar
imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan
Stanislavski disebut magic-if. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi
mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. Selain itu, seorang pemeran juga
harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan.
Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi.
Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi.
·
Imajinasi menciptakan hal-hal
yang mungkin ada atau mungkin terjadi, sedangkan fantasi membuat hal-hal yang
tidak ada, tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada.
·
Imajinasi tidak bisa dipaksa,
tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. Imajinasi tidak akan muncul jika
direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. Objek berfungsi untuk menstimulasi
atau merangsang pikiran. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis. Dengan
berpikir, maka akan terjadi proses imajinasi.
·
Imajinasi tidak akan muncul
dengan pikiran yang pasif, tetapi harus dengan pikiran yang aktif. Melatih
imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir.
·
Pikiran bisa disuruh untuk
mempertanyakan segala sesuatu. Dengan stimulus pertanyaan-pertanyaan atau
menggunakan stimulus ”seandainya”, maka akan memunculkan gambaran
pengandaiannya. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis, dan jangan
menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan). Untuk membangkitkan
imajinasi tokoh gunakan pertanyaan; siapa, dimana, dan apa. Misalnya, “siapakah
Hamlet itu?”, maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Usaha
menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok
Hamlet.
VII.
METODE
PENELITIAN
1.
Dasar
dan Jenis Penelitian
Penelitian
adalah semua kegiatan pencari, penyelidikan dan percobaan secara alamiah dalam
suatu bidang tertentu, untuk mendapatkan fakta-fakta atau prinsip-prinsip baru
yang bertujuan untuk mendapatkanpengertian baru dan menaikan tingkat ilmu serta
teknologi (Margono, 2005 : 1)
Metode penelitian terdapat dua
macam, yaitu metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian
kuantitatif adalah penelitian yang mencakup setiap jenis penelitian yang
didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata dan perhitungan statistik
lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan perhitungan atau
angka atau kuantitas. Sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2007 : 3-4)
Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif yang akan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tentang
bagaimana upaya guru dalam penanaman karakter kepekaan sosial dan lingkungan melalui
ekstrakulikuler teater yang akan diamati.
Artinya data yang dianalisis berbentuk deskriptif dan tidak berupa angka-angka
seperti halnya pada penelitian kuantitatif.
Instrumen yang dipakai berbentuk : observasi, wawancara dan
dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengukur indikator
keberhasilan yang sudah dirumuskan.
2.
Lokasi
Penelitian
3.
Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan selama 3 (tiga) bulan dan dilaksanakan mulai
pada pertengahan awal Desember 2013.
4.
Fokus Penelitian
Fokus penelitian ditetapkan dengan tujuan membantu peneliti dalam
membuat keputusan yang tepat mengenai data yang akan dikumpulkan dan yang mana
tidak perlu dijamah.
Fokus penelitian mempunyai dua tujuan, pertama penetapan fokus
membatasi studi yang berarti bahwa dengan penentuan tempat penelitian menjadi
lebih layak. Kedua penentuan fokus secara efektif menetapkan kriteria inklusi –
eksklusi untuk menyaring informasi yang mengalir masuk (Moleong, 2002 : 237).
Dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah sebagai
berikut :
a.
Mengetahui
bagaimana penerapan penanaman karakter kepekaan sosial dan lingkungan melalui
ekstrakulikuler teater.
b.
Mengetahui kendala- kendala dalam penerapan penanaman karakter kepekaan sosial dan lingkungan melalui
ekstrakulikuler teater?
c.
Mengetahui bagaimana cara menyelesaikan masalah dalam penerapan penanaman karakter kepekaan sosial dan
lingkungan melalui ekstrakulikuler teater.
5.
Sumber Data Penelitian
Menurut Lofland sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah
kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan
lain-lain (Moleong, 2007 : 157).
Data merupakan keterangan-keterangan suatu hal yang dapat berubah
sesuatu yang diketahui atau sesuatu yang dapat digambarkan melalui angka,
simbol, kode dan lain sabagainya yang berkaitan dengan penelitian. Apabila
peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya maka
sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau yang menjawab
pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan. Apabila
peneliti menggunakan teknik observasi, maka sumber datanya bisa berupa benda,
gerak atau proses sesuatu.
Sumber
data untuk penelitian ini diperoleh dari :
1.
Responden
Peneliti
menetapkan sejumlah
2.
Informan
·
Kepala sekolah sebagai
penanggung jawab terhadap sekolah yang dijadikan objek penelitian.
·
Guru ekstrakulikuler sebagai
orang yang terkait dalam melaksanakan berbagai tindakan yang berhubungan dengan
prestasi belajar.
·
Siswa / peserta ekstrakulikuler
sebagai objek pelaksana penanaman karakter
·
Orang tua/ Wali murid.
6.
Metode
Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a.
Observasi
Metode Observasi adalah kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu
obyek dengan menggunakan seluruh indera. Jadi, Mengobservasi dapat dilakukan
menggunakan panca indera yaitu penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan
pengecap (Arikunto, 2002 : 133).
Dalam penelitian ini peneliti mengamati kegiatan penanaman karakter
kepekaan social dan lingkungan yang di tanamkan oleh guru pada muridnya saat
pelaksanaan ekstrakulikuler teater.
b.
Wawancara
Wawancara yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung
pada responden. Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi
(Singarimbun, 1989: 192). Wawancara juga dapat digunakan untuk menilai hasil
belajar dan proses belajar. Ada dua macam jenis wawancara, yaitu wawancara
terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Dalam wawancara terstruktur,
jawaban telah disiapkan sehingga tinggal mengkategoriakan alternatif jawaban
yang telah disediakan. Sedangkan dalam wawancara tidak terstruktur, jawaban
tidak perlu disiapkan sehingga bebas mengemukakan pendapatnya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara tidak
terstruktur. Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang penanaman penanaman
karakter kepekaan social dan lingkungan melaui ekstra kulikuler teater. Baik
wawancara yang ditujukan kepada kepala sekolah, guru, wali murid maupun peserta
didik.
c.
Dokumentasi
Penggunaan dokumentasi bertujuan untuk mencari data mengenai hal-hal
atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah,
prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002 : 2006)
Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh fakta mengenai
kebenaran yang valid. Karena objek yang menjadi sasaran penelitian dapat
dipertanggung jawabkan dengan fakta yang ada.
7.
Validitas Data Penelitian
Sejauh mana kepercayaan dapat diberikan pada kesimpulan penelitian
tergantung antara lain pada akurasi dan kecermatan data yang diperoleh. Akurasi
dan kecermatan data hasil pengukuran tergantung pada validitas dan reabilitas
alat ukurnya.
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat
kevalidan atau kesahihan sesuai dengan instrumen. Suatu instrumen yang valid
atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila
mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang
diteliti secara tepat (Arikunto, 2002 : 145)
Dalam penyusunan instrumen yang valid, peneliti harus hati-hati dan
harus mengikuti langkah-langkah penyusunan instrumen yakni dengan memecah
variabel menjadi sub variabel yang diharapkan memperoleh instrumen yang
memiliki validitas logis. Dikatakan logis sebab validitas diperoleh dengan
sangat hati-hati melalui cara-cra yang benar, sehingga menurut logika akan
dicapai suatu tingkat validitas yang dikehendaki. Maka dari itu peneliti harus
lebih hati-hati dalam mengumpulkan data penelitian.
Tehnik yang digunakan peneliti adalah memanfaatkan sumber data hasil
pengamatan dan data hasil wawancara dan observasi.
8.
Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini dilakukan dengan menggunakan beberapa tahap,
yaitu :
1.
Tahap pra penelitian
Tahap ini berisi
tentang rancangan skripsi, membuat surat perijinan dan membuat instrumen.
2.
Tahap penelitian
a.
Pelaksanaan penelitian dengan
mengadakan observasi pendahuluan di Taman Kanak-Kanak Pertiwi Kabupaten
Banjarnegara.
b.
Pengamatan secara langsung
mengenai penanaman nilai-nilai anti korupsi melalui media dongeng pada anak
usia dini.
c.
Kajian pustaka dengan
mengumpulkan data dari informasi dan buku-buku.
3.
Tahap pembuatan laporan
Peneliti menyusun data hasil penelitian dan dianalisis kemudian
dideskripsikan sebagai penyusunan laporan hasil penelitian.
VIII.
SISTEMATIKA SKRIPSI
Sistematika
skripsi ini disusun sebagai berikut :
a.
Bagian Awal
Pada bagian ini memuat beberapa halaman yaitu : halaman judul,
abstrak, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata
pengantar, daftar isi dan daftar lampiran.
b.
Bagian isi skripsi yaitu:
Bab I Pendahuluan,
yang berisi: latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian dan sistematika skripsi
Bab II Landasan
teori, yang membicarakan tentang landasan teori atau konsep-konsep serta teori
yang mendukung pemecahan masalah dalam penelitian ini.
Bab III Metode
penelitian, menguraikan tentang, dasar dan jenis penelitian, lokasi penelitian,
fokus penelitian, sumber data penelitian, alat dan tehnik pengumpulan data
penelitian, validitas data penelitian dan prosedur penelitian.
Bab IV Hasil
penelitian dan pembahasan, menguraikan tentang : kondisi umum lokasi
penelitian, deskripsi hasil penelitian, pembahasan.
Bab V Simpulan dan
saran, menguraikan tentang simpulan dan saran.
c.
Bagian terakhir skripsi berisi
tentang : daftar pustaka dan lampiran-lampiran.
DAFTAR
PUSTAKA
Agus. 2008. Pengertian Dongeng. http://linaleebon.blogspot.com.
(10 Maret 2009)
Ali, Muhammad. 2007. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Agesindo.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Djamarah, Bahri Syaiful. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Handoyo, Eko.2009. Pendidikan
Anti Korupsi. Semarang : Widya Karya Press.
Hermawan,
Didik .Budaya Korupsi. http://www.wikimu.com.
(12 Maret 2009)
KPK. 2006. Mengenali
dan Memberantas Korupsi. Jakarta.
Margono, S. 2009.
Metodologi Penelitian Pendidikan.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Rachman, Maman. 1999. Strategi dan Langkah-langkah Penelitian. Semarang: IKIP Semarang
Press.
Rifa,I, Ahamad dan Chatarina Tri Anni. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES
PRESS.
Sugandi, Achmad. 2005. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT UNNES PRESS.
Sugiyono. 2009. Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabet
Adinegoro, D. 1966. Publisistik & Jurnalistik II.
Jakarta: Gunung Agung.
Arifin, Zainal. 2010. ‘Membangun Pendidikan
Berkarakter’. derizzain@yahoo.co.id. Diunduh pada 11 April 2011.
Caraka, Cipta Loka. 1976. Tehnik Mengarang. (Cet. II).
Yogyakarta: Kanisius.
Dewantara, Ki Hajar. 1962. Karya Ki Hajar Dewantara.
Yogyakarta: Taman Siswa.
Harymawan, RMA. 1993 (Cet. II). Dramaturgi. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Hasanah, Aan (Pengamat pendidikan dan dosen UIN
Bandung) ‘Pendidikan Berbasis Karakter‟
http://karakterbangkit.blogspot.com/2009/12/pendidikan-berbasis- karakter.html.
Senin, 14 Desember 2009. Diunduh pada 10 April 2011.
Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Pendidikan
Karakter di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah.
Lisle, Harold de; Robert Parker; Harold Ridlon; Joseph
Yokelson. t.t. The Personal Response to Literature. New York: Houghton Mifflin
Company.
Lubis, Mohtar. t.t. Tehnik Mengarang (Cet. IV
Diperbarui). Jakarta: Nunang Jaya.
Moody, HLB. 1972. The Teaching of Literature.
London.
Oemarjati, Boen S. 1971. Bentuk Lakon dalam Sastra
Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.
Ramelan, Kastoyo. 1980. Seni Drama. Solo: Tiga
Serangkai.
Sadhono, Sri. 1988. Pelaksanaan Pendidikan Seni Teater
di SMA dan SMKI. (Makalah disampaikan pada seminar Prospek Pendidikan Seni
Teater yang diselenggarakan oleh UNSTRAT IKIP YOGYAKARTA pada 31 Juli
1988).
Saleh, Mbiyo. 1967. Sandiwara dalam Pendidikan.
Jakarta: Gunung Agung.
Shipley, Joseph T. 1971. Dictionary of World
Literature. New Jersey: Littlefield, Adams & Company Paterson.
Sihombing, Wahyu. 1974. ‘Masalah Educational Theatre’
dalam Budaya Jaya No. 75 Th. VII. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
Suyanto. 2009. ’Urgensi Pendidikan Karakter’.
http://www.mandik dasmen.depdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html. Diunduh pada
10 April 2011.
Sumaryadi. 1979. “Aduh” Karya Putu Wijaya Sebuah Drama
Kontemporer dan Hubungannya dengan Pendidikan. Yogyakarta: FKSS IKIP
Yogyakarta.
Sumaryadi. 1987. ‘Seni dan Ilmu: Sebuah Sorotan Kecil’
dalam Cakrawala Pendidikan No. 1, Vol. VI, Th. 1987. Yogyakarta: IKIP
Yogyakarta.
Suriasumantri. 1984. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar
Populer. Jakarta: Sinar Harapan.
Susetyo, Benny (Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI,
Pemerhati Sosial). http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak, generated: 19
June, 2010. Diunduh pada 11 April 2011.
Tambajong, Japi. 1981. Dasar-dasar Dramaturgi.
Bandung: Pustaka Prima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar